Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali mencatatkan penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan. Sejumlah faktor dari dalam maupun luar negeri dinilai menghambat penguatan mata uang Indonesia.
Dikutip dari Investasi, data Bloomberg menunjukkan rupiah spot bertengger di level Rp 17.839 per dolar AS pada akhir perdagangan Selasa (2/6/2026). Angka ini memperlihatkan pelemahan sebesar 0,19% dari hari sebelumnya yang berada di posisi Rp 17.805 per dolar AS.
Kondisi berbeda terlihat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Mata uang Garuda justru menguat Rp 94 atau sekitar 0,11% ke posisi Rp 17.863 per dolar AS, jika dibandingkan dengan posisi pada 29 Mei 2026 yang berada di Rp 17.883 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pergerakan nilai tukar saat ini masih dibayangi oleh ketegangan di Timur Tengah. Pengumuman gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel melalui Lebanon menjadi tanda deeskalasi, tetapi belum meredakan kekhawatiran pasar sepenuhnya.
Kondisi ini terjadi karena potensi konflik yang lebih luas dengan Iran tetap mengancam rute perdagangan energi internasional. Iran dilaporkan membatasi hampir seluruh pengiriman non-Iran di kawasan Teluk, yang mengganggu seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia serta memicu kenaikan harga energi.
Kebijakan Tarif Dagang Donald Trump
Selain situasi geopolitik, pelaku pasar juga tengah mengamati kebijakan perdagangan teranyar dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
"Selain itu, Presiden AS Donald Trump pada hari Senin menandatangani proklamasi yang mengubah tarif impor tembaga, aluminium, dan besi, kata Gedung Putih. Proklamasi tersebut menurunkan tarif untuk beberapa peralatan pertanian dari 25% menjadi 15%," kata Ibrahim, Selasa (2/6/2026).
Pemerintah AS turut menetapkan tarif sebesar 15% untuk impor alat industri bergerak seperti buldoser dan forklift dari negara mitra dagang tertentu. Kebijakan yang berlaku sampai akhir 2027 ini bertujuan menyokong investasi dan memperkuat industri domestik AS.
Sentimen Data Ekonomi Domestik
Dari dalam negeri, pergerakan rupiah ikut dipengaruhi oleh publikasi sejumlah indikator ekonomi teranyar. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laju inflasi bulanan pada Mei 2026 berada di angka 0,28% secara mtm.
Secara akumulatif, inflasi tahun kalender tercatat sebesar 1,35%, sedangkan inflasi tahunan menyentuh 3,08%. Tekanan pada Indeks Harga Konsumen (IHK) sepanjang bulan tersebut terpantau lebih tinggi dibandingkan realisasi April 2026 yang mengalami inflasi sebesar 0,13% mtm.
Di sisi lain, laporan S&P Global menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik menjadi 50,0 pada Mei 2026 dari posisi sebelumnya 49,1 pada April 2026. Kendati demikian, sektor manufaktur nasional masih dibayangi kenaikan harga bahan baku dan hambatan pasokan.
Faktor positif tambahan datang dari laporan BPS mengenai surplus neraca perdagangan yang berlanjut hingga April 2026. Secara kumulatif, surplus periode Januari-April 2026 menembus US$ 5,64 miliar, sekaligus mencatatkan tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Untuk perdagangan Rabu (3/6), Ibrahim memproyeksikan rupiah masih berpotensi tertekan oleh dinamika geopolitik dan kebijakan dagang global. Mata uang rupiah diperkirakan akan bergerak pada rentang Rp 17.840 sampai Rp 17.900 per dolar AS.