Pasar keuangan domestik kembali diguncang oleh sentimen negatif yang memicu penurunan tajam nilai mata uang Garuda. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot ke level terparah sepanjang sejarah.
Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan Senin pagi, 18 Mei 2026 pukul 09.10 WIB, rupiah terkoreksi sebesar 61 poin atau melemah 0,35 persen. Angka tersebut membawa mata uang Indonesia ke posisi Rp 17.658 per dolar AS, seperti dilansir dari Suara.
Keperkasaan dolar AS tidak hanya menekan rupiah, melainkan juga memukul mayoritas mata uang utama di Asia dan global. Won Korea terpantau anjlok 0,57 persen, diikuti pelemahan tipis pada yen Jepang sebesar 0,03 persen.
Mata uang global lainnya juga melemah terhadap dolar AS, seperti dolar Kanada yang turun 0,08 persen dan franc Swiss sebesar 0,06 persen. Sebaliknya, dolar AS hanya menyerah tipis 0,01 persen terhadap dolar Hong Kong.
Fenomena "Super Dollar" ini menjadi alarm keras bagi makroekonomi nasional karena berpotensi membebani utang luar negeri. Selain itu, lonjakan ini memicu risiko inflasi barang impor atau imported inflation.
Meskipun menekan ekonomi makro, situasi ini justru mendatangkan keuntungan besar bagi sejumlah pihak. Pelaku usaha orientasi ekspor yang menggunakan struktur biaya rupiah namun berpendapatan dolar AS menjadi pihak pertama yang diuntungkan.
Pada sektor komoditas, eksportir batu bara, kelapa sawit (CPO), nikel, dan karet menikmati lonjakan pendapatan drastis saat hasil penjualan dikonversi ke rupiah. Sektor manufaktur dan kerajinan juga mendapatkan keuntungan serupa.
Industri tekstil, furnitur, dan kerajinan tangan yang memanfaatkan bahan baku lokal sepenuhnya akan memperoleh margin keuntungan lebih tebal. Daya saing harga produk mereka di pasar global pun otomatis meningkat.
Sektor pariwisata luar negeri turut mendapat dampak positif dari melemahnya nilai tukar ini. Bagi wisatawan mancanegara, biaya berlibur di Indonesia menjadi jauh lebih murah karena posisi rupiah yang berada di level Rp 17.600-an.
Destinasi premium seperti Bali, Lombok, dan Labuan Bajo menjadi sangat ekonomis bagi turis pemegang dolar AS. Lonjakan kunjungan ini otomatis menaikkan tingkat keterisian kamar hotel, restoran, hingga pendapatan UMKM di daerah wisata.
Berkah dari penguatan dolar AS ini juga dirasakan langsung oleh para Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri. Pekerja yang digaji dalam mata uang dolar AS atau mata uang yang dipatok ke dolar AS menjadi diuntungkan.
Uang kiriman atau remitansi yang dikirimkan ke dalam negeri nilainya otomatis membengkak saat dicairkan ke dalam mata uang rupiah. Hal ini secara langsung meningkatkan daya beli keluarga pekerja migran di kampung halaman.