Kurs Rupiah Tembus Rp 18.049 per Dolar AS pada 4 Juni 2026

Kurs Rupiah Tembus Rp 18.049 per Dolar AS pada 4 Juni 2026

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan besar hingga melewati level psikologis baru. Seperti dikutip dari Investasi, mata uang Indonesia mencatatkan rekor pelemahan terdalam sepanjang sejarah akibat akumulasi sentimen negatif dari pasar domestik dan global yang memicu aksi hindar risiko.

Berdasarkan data pasar spot Bloomberg, rupiah mengakhiri perdagangan Kamis (4/6/2026) pada level Rp 18.049 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 0,45 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di posisi Rp 17.967 per dlar AS.

Kondisi serupa juga tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Kurs Jisdor menempatkan rupiah pada level Rp 18.039 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026), atau merosot 0,6 persen dari hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.931 per dolar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk-off di pasar domestik dan global.

Menurut analisisnya, tekanan pada pasar saham dalam negeri dipicu oleh aksi jual bersih investor asing yang terjadi secara terus-menerus. Fenomena ini memperburuk penilaian pelaku pasar terhadap aset-aset keuangan di Indonesia, termasuk mata uang rupiah.

"Selain itu, sentimen domestik yang dinilai masih lemah juga menjadi faktor yang membebani pergerakan rupiah," ujar Lukman saat dihubungi Kontan, Kamis (4/6/2026).

Faktor eksternal seperti eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperparah keadaan dengan mendorong investor mengamankan modal ke aset safe haven. Situasi ini meningkatkan permintaan terhadap dolar AS secara signifikan di pasar global.

Menghadapi sesi perdagangan berikutnya pada Jumat (5/6), perhatian pelaku pasar diproyeksikan akan tertuju pada publikasi data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Investor mengantisipasi rilis data non-farm payrolls (NFP) yang diperkirakan solid, menyusul capaian data ADP Employment Change yang melampaui estimasi pasar.

Selain indikator ekonomi bentukan Amerika Serikat, perkembangan konflik di Timur Tengah tetap menjadi faktor penentu utama bagi pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Lukman memproyeksikan mata uang Garuda akan bergerak pada kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.100 per dolar AS.

Artikel terkait

Rekomendasi