Halaman bekas klinik kesehatan peninggalan Belanda di Padukuhan Tamanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini berubah menjadi kawasan hijau produktif. Lahan yang sempat terbengkalai dan dipenuhi semak belukar tersebut disulap menjadi perkebunan lidah buaya yang subur.
Kawasan agribisnis ini dikelola secara produktif oleh Kelompok Wanita Tani atau KWT Sumber Boga, seperti dikutip dari Suara. Lahan seluas 1.000 meter persegi tersebut kini menampung sekitar 1.200 tanaman lidah buaya yang dirawat oleh para ibu rumah tangga setempat.
Bangunan di lahan tersebut awalnya merupakan Klinik Pabrik Gula Randugunting yang didirikan pada tahun 1870 untuk melayani karyawan pribumi dan masyarakat. Klinik yang memiliki bangsal perawatan, kantor, dan rumah dinas mantri ini berhenti beroperasi pada tahun 1930-an akibat krisis ekonomi, sebelum akhirnya menjadi bagian jaringan rumah sakit pembantu milik RS Bethesda.
Ketua KWT Sumber Boga, Nurul Komariyah menceritakan kondisi awal lokasi tersebut yang sempat didatangi warga Belanda untuk bernapak tilas.
"Dulu kan di sini ada pabrik gula zaman Belanda, cerobongnya masih. Kliniknya di sini, sama Randugunting. Dulu pernah ada dari Belanda langsung ke sini, beberapa tahun yang lalu. Mereka napak tilas," kata Nurul Komariyah.
Nurul Komariyah menambahkan bahwa proses pembersihan lahan dimulai sekitar tahun 2018 hingga 2019 setelah mendapatkan izin penggunaan tempat.
"Dulu depan rumah sakit itu semua semak belukar. Bekas tanaman toga, obat-obatan. Kan kami pakai tahun 2018-2019 itu dibersihkan kemudian izin untuk dipakai," lanjutnya.
Awalnya, budidaya tanaman ini bermula dari 200 bibit di lahan kecil milik dukuh setempat. Karena tanaman terus berkembang biak, operasional kebun akhirnya dipindahkan ke lahan milik Bethesda yang kini ditempati.
"Dulu kan kami waktu belajar, kami beli 200 bibit. Kami tanam di lahan Pak Dukuh, pojok desa sana. Itu semakin lama beranak pinak, otomatis butuh lahan banyak," ungkap Nurul.
Pihak pengelola kemudian meminta izin untuk menggunakan lahan yang lebih luas demi mengakomodasi pertumbuhan tanaman yang semakin banyak.
"Akhirnya Pak Dukuh nembung lahan Bethesda untuk nanam itu. Itu kan kurang lebih 900-1000 meter persegi dan kemudian dipindah ke situ," lanjutnya.
Sejak berpindah pada tahun 2019, lebih dari 100 anggota KWT Sumber Boga menyirami tanaman secara manual menggunakan ember secara bergotong royong dari selokan terdekat.
"Sebelum ada pengairan itu, kami menggerakkan ibu-ibu. Hampir satu atau dva minggu sekali, bawa ember nanti jejer-jejer deket selokan itu. Diranting, satu planter bag itu satu ember kecil," kenang Nurul.
Nurul Komariyah mengakui metode manual tersebut cukup menguras tenaga dan menyulitkan koordinasi anggota.
"Selama ini gitu, manual. Capek iya. Capek tanaga, capek perkewuh mengumumkan juga," lanjutnya.
Mekanisasi sistem pengairan baru terwujud pada tahun 2024 melalui program Corporate Social Responsibility atau CSR dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Bantuan prasarana tersebut dialokasikan untuk membangun sistem irigasi berbasis Internet of Things atau IoT.
Teknologi otomatisasi ini memungkinkan proses penyiraman seluruh area perkebunan dikendalikan secara jarak jauh melalui perangkat ponsel pintar.
"Pakai smart IoT, tinggal pencet saja. Saya sambil masak saja nyalakan bisa, sudah mengalir. Saya mau di Semarang, mau di Jakarta juga bisa langsung," ujar Nurul.
Keberadaan sistem pengairan pintar ini dirasakan sangat membantu efisiensi kerja, terutama saat memasuki musim kemarau.
"Jadi, sangat bermanfaat. Apalagi kalau musim kemarau sangat bermanfaat," imbuhnya.
Dampak Positif Terhadap Ekonomi Domestik
Penerapan teknologi pengairan otomatis memberikan waktu luang bagi para anggota kelompok untuk fokus mengembangkan produk hilir bernilai jual. KWT Sumber Boga kini memproduksi minuman lidah buaya aneka rasa, permen, keripik, hingga produk sabun.
Kepala Dukuh Tamanan, Hasto Sri Wibowo menyatakan bahwa aktivitas kelompok tani ini berhasil memicu pertumbuhan 22 unit UMKM baru di wilayahnya.
"Dengan adanya KWT ini sekarang sudah terkumpul sekitar 22 UMKM di Tamanan. Tadinya kan enggak ada," kata Hasto Sri Wibowo.
Pihak dukuh memberikan dukungan penuh dengan memfasilitasi pemasaran produk warga dalam berbagai acara pameran.
"Yang usaha-usaha kami kumpulkan, mau buat kripik dan lainnya, kami bantu pemasaran. Ada event-event kami munculkan semua," imbuhnya.
Sinergi modal teknologi dan komoditas lokal ini terbukti nyata mendongkrak pendapatan sekunder bagi keluarga di pedesaan.
"Iya berdampak ke ekonomi warga itu jelas," tegas Hasto.
Hasto Sri Wibowo berharap program pemberdayaan ini dapat terus mendorong kemandirian ekonomi warga tanpa terus bergantung pada stimulan bantuan.
"Saya harapannya simpel, warga saya tumbuh mandiri. Tidak kebergantungan dengan bantuan. Biar mereka usaha dan kita ikhtiar," lanjut pria asal Sleman itu.