Laba Bank Mega Syariah Tumbuh 51 Persen pada Triwulan I 2026

Laba Bank Mega Syariah Tumbuh 51 Persen pada Triwulan I 2026

Bank Mega Syariah membukukan laba sebelum pajak senilai Rp79,97 miliar pada triwulan pertama tahun 2026, sebuah pencapaian yang menandai pertumbuhan signifikan sebesar 51 persen secara tahunan. Lonjakan profitabilitas ini dipicu oleh keberhasilan strategi pembiayaan serta peningkatan efisiensi operasional perusahaan hingga Maret 2026.

Kinerja positif ini dilansir dari Suara, di mana perusahaan berhasil mengoptimalkan fungsi intermediasi dengan menyalurkan pembiayaan mencapai Rp9,26 triliun. Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 7,2 persen jika dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun sebelumnya yang tercatat senilai Rp8,64 triliun.

Peningkatan kepercayaan publik turut memperkuat posisi keuangan perseroan melalui penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang kini menembus angka di atas Rp10 triliun. Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah, Hanie Dewita, memaparkan rincian pertumbuhan pendapatan perseroan yang terjadi sepanjang periode tersebut.

"Peningkatan laba yang signifikan ini memperlihatkan keberhasilan strategi pembiayaan syariah perseroan, di mana pendapatan setelah distribusi bagi hasil mencapai Rp191,60 miliar, atau tumbuh lebih dari 20 persen secara tahunan," kata Hanie Dewita, Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah.

Pertumbuhan bisnis pembiayaan ini juga mendapatkan sokongan dari pendapatan berbasis piutang yang naik sekitar 40,9 persen menjadi lebih dari Rp118 miliar. Selain itu, pendapatan bagi hasil mencatatkan tren positif dengan kenaikan 4,7 persen menjadi lebih dari Rp114,73 miliar.

"Kami terus mengoptimalkan strategi bisnis dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan pengelolaan biaya dana. Di saat yang sama, kami juga memperkuat layanan kepada nasabah melalui inovasi produk dan sinergi ekosistem," ujar Hanie Dewita, Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah.

Langkah optimalisasi struktur pendanaan yang dilakukan secara konsisten terbukti efektif dalam menjaga efisiensi biaya dana (cost of fund). Hal ini berdampak pada kenaikan margin perusahaan, yang terlihat dari peningkatan Net Imbalan (NI) menjadi 5,85 persen dari posisi sebelumnya yang berada di angka 4,04 persen.

Efisiensi operasional juga mengalami perbaikan yang ditandai dengan penurunan rasio Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) menjadi 76,90 persen dari semula 85,08 persen. Ketahanan modal bank tetap berada pada posisi kuat dengan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) sebesar 27,63 persen.

"Capaian positif dalam kinerja perbankan syariah ini didorong oleh penguatan lini bisnis ritel dan korporasi, serta efisiensi operasional yang optimal, sehingga memperkokoh posisi perseroan sebagai salah satu pemain utama dalam industri keuangan syariah di Indonesia," tandas Hanie Dewita, Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah.

Sebagai antisipasi tantangan ke depan, manajemen berkomitmen memperkuat manajemen risiko untuk menjaga kualitas aset secara berkelanjutan. Perseroan memproyeksikan tren kinerja positif ini akan terus dipertahankan melalui strategi perbankan yang selektif dan adaptif hingga akhir tahun 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi