PT Bank Jago Tbk (ARTO) membukukan laba bersih sebesar Rp86 miliar pada kuartal pertama 2026 atau mengalami pertumbuhan sebesar 42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian ini diumumkan dalam pertemuan di Kantor Bank Jago, Jakarta, pada Rabu (6/5/2026).
Pertumbuhan kinerja keuangan tersebut ditopang oleh penyaluran kredit yang mencapai Rp25,2 triliun, meningkat 24 persen dari posisi Rp20,3 triliun pada kuartal I-2025. Dilansir dari Suara, jumlah nasabah perusahaan kini menyentuh angka 19,4 juta orang dengan mayoritas berasal dari segmen perbankan digital.
Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk, Arief Harris Tandjung, menjelaskan bahwa hasil positif ini diraih di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ia menyebut manajemen menerapkan disiplin ketat terhadap tiga arahan proses bisnis utama perusahaan.
"Kinerja kuartal pertama mengejutkan kami mengingat kondisi perekonomian Indonesia dan global yang masih tidak menentu," kata Arief Harris Tandjung, Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk.
Data keuangan menunjukkan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami kenaikan 23 persen secara tahunan menjadi Rp26,4 triliun pada akhir Maret 2026. Struktur DPK tersebut terdiri dari 56 persen gabungan nasabah korporasi, UKM, dan HNWI, sementara 44 persen lainnya bersumber dari perbankan digital.
"Dengan semua performa tersebut, di usia kami yang kelima, kami menyatakan bahwa Bank Jago punya hak hidup di segmen technology-based bank," tegas Arief Harris Tandjung, Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk.
Arief menekankan pentingnya menjaga kekuatan likuiditas sebagai fondasi utama dalam operasional perbankan. Hal ini menjadi salah satu dari tiga pilar strategi yang dijalankan perusahaan untuk mempertahankan kesehatan portofolio aset.
"Kami sangat berhati-hati dalam menjaga likuiditas, karena ibarat jantung. Kalau sampai terkenan searagan jantung tubuh bisa langsung kolaps," kata Arief Harris Tandjung, Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk.
Selain likuiditas, Bank Jago menjaga rasio kredit bermasalah (NPL) pada level rendah. Fokus manajemen tertuju pada keseimbangan antara ekspansi bisnis dan tingkat profitabilitas yang dihasilkan secara berkelanjutan.
"Jadi kami tidak akan mengorbankan profitabilitas demi mengejar pertumbuhan," tutup Arief Harris Tandjung, Presiden Direktur PT Bank Jago Tbk.