Unit Usaha Syariah (UUS) PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (BJTM) mencatatkan perolehan laba bersih sebesar Rp2,76 miliar sepanjang kuartal I/2026. Angka ini menunjukkan adanya koreksi cukup dalam jika dibandingkan dengan pencapaian tahun sebelumnya.
Dilansir dari Finansial, raihan laba bersih pada periode ini mengalami penurunan sebesar 83,24% secara tahunan (year on year/YoY). Sebagai perbandingan, pada kuartal I/2025, perusahaan sempat mengantongi laba bersih senilai Rp16,51 miliar.
Penyusutan laba bersih tersebut dipicu oleh melesunya pendapatan setelah distribusi bagi hasil. Tercatat ada penurunan sebesar 26,34% YoY, dari semula Rp57,70 miliar pada kuartal I/2025 menjadi Rp42,50 miliar pada periode Maret 2026.
Meskipun laba tertekan, UUS Bank Jatim melakukan langkah efisiensi dengan menekan beban operasional lainnya hingga ke posisi Rp37,95 miliar. Jumlah ini turun 7,44% YoY dari posisi sebelumnya yang mencapai Rp41,00 miliar.
Faktor utama yang mendorong efisiensi ini adalah menyusutnya beban tenaga kerja sebesar 18,27% YoY menjadi Rp16,42 miliar. Selain itu, pos beban lainnya juga ikut mengalami penurunan sebesar 3,93% YoY ke angka Rp14,53 miliar.
Kinerja Intermediasi dan Kualitas Aset
Pada fungsi intermediasi, penyaluran pembiayaan bagi hasil UUS Bank Jatim tercatat sebesar Rp1,53 triliun hingga Maret 2026. Nilai pembiayaan ini mengalami penyusutan 4,70% jika dibandingkan dengan kuartal I/2025 yang berada di angka Rp1,60 triliun.
Berbeda dengan pembiayaan, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) justru menunjukkan tren positif. Perseroan berhasil menghimpun dana sebesar Rp3,11 triliun, atau tumbuh 14,90% YoY dari posisi kuartal I/2025 yang senilai Rp2,71 triliun.
Terkait kualitas aset, terjadi perbaikan pada rasio NPF gross yang turun ke level 3,68% dari posisi sebelumnya 4,08%. Namun, rasio NPF net perseroan terpantau merangkak naik dari 1,99% menjadi 2,17% pada kuartal I/2026.