Laba Emiten Emas Melonjak Signifikan pada Kuartal I-2026

Laba Emiten Emas Melonjak Signifikan pada Kuartal I-2026

Kinerja emiten produsen emas pada kuartal I-2026 mencatatkan tren solid di tengah dinamika harga emas global dan ketidakpastian suku bunga Amerika Serikat. Kenaikan harga emas dunia menjadi penopang utama pendapatan dan laba sejumlah perusahaan tambang, seperti dilansir dari Investasi.

Research Analyst Bumiputera Sekuritas Muhammad Thoriq Fadilla menilai prospek emiten emas hingga semester I-2026 masih cukup positif. Peluang ini terbuka terutama bagi perusahaan yang memiliki produksi langsung dan mampu menjaga efisiensi biaya operasional.

Kenaikan harga jual rata-rata emas berhasil mendongkrak pendapatan serta margin perusahaan. Kondisi ini terjadi meskipun volume produksi beberapa emiten belum sepenuhnya optimal di lapangan.

PT Aneka Tambang Tbk mencuri perhatian dengan membukukan pendapatan sebesar Rp 29,32 triliun pada kuartal I-2026. Segmen emas memberikan kontribusi dominan sekitar 81% atau senilai Rp 23,89 triliun terhadap pendapatan tersebut.

Laba bersih ANTM melonjak hampir 60% secara tahunan menjadi Rp 3,41 triliun. Meskipun sekitar 97% penjualan dipasarkan di pasar domestik, bisnis logam mulia ini tetap menjadi mesin pertumbuhan utama korporasi.

Volume penjualan emas ANTM tercatat mencapai 8.464 kilogram atau setara dengan 272.124 troy ounce. Kinerja positif serupa juga dibukukan oleh PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).

BRMS meraup pendapatan US$ 69,47 miIjar, ditopang penjualan emas US$ 66,73 juta dan perak US$ 2,74 juta. Lonjakan harga jual rata-rata emas hingga 60,6% menjadi US$ 4.512 per ounce menjaga performa korporasi tetap positif, walau volume penjualan turun lebih dari 32% secara tahunan.

PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) sebagai emiten pure-play emas membukukan pertumbuhan laba bersih 187,9% secara tahunan menjadi US$ 30,19 juta. Pendapatan ARCI naik menjadi US$ 136,91 juta dengan target kenaikan produksi tahun ini sebesar 15% menjadi 140 ribu ounce.

PT Merdeka Copper Gold (MDKA) mulai mendapat katalis positif dari proyek emas Pani melalui EMAS. Pada kuartal I-2026, Tambang Emas Tujuh Bukit memproduksi 24.835 ounce emas dengan ASP US$ 4.841/oz dan AISC US$ 1.065/oz.

Tujuh Bukit menargetkan produksi 80.000 hingga 90.000 ounce untuk tahun 2026. Sementara itu, proyek Pani menargetkan produksi berada di kisaran 100.000 sampai 115.000 ounce emas.

Kontribusi lini emas MDKA berpotensi meningkat kuat pada semester II, didukung transisi Pani ke fase produksi.

"Dengan demikian, hingga akhir Semester I-2026, kinerja emiten emas masih berpeluang tumbuh positif secara yoy. Namun, pertumbuhan kuartal II-2026 kemungkinan tidak sekuat kuartal I-2026 secara kuartalan (QoQ) karena harga emas mulai terkoreksi dari level puncaknya dan pasar mulai kembali memperhitungkan risiko suku bunga tinggi," ujar Thoriq kepada Kontan, Jumat (22/5/2026).

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi memproyeksikan kinerja sektor emas masih positif. Faktor pendorongnya adalah harga jual rata-rata (ASP) dan margin emiten yang berada di level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Tantangan sektor ini meliputi inflasi Amerika Serikat yang menahan pivot The Fed serta menekan daya tarik emas sebagai non-yielding asset.

"Penguatan indeks dolar (DXY) menambah tekanan. Di sisi operasional, kenaikan biaya produksi harus diimbangi peningkatan volume agar margin terjaga," terang Wafi.

Adrian Djie, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia melihat arah kebijakan suku bunga The Fed memengaruhi arus modal dan harga komoditas. Dinamika regulasi dan volatilitas harga emas global juga berpotensi memengaruhi pendapatan operasional emiten.

"Secara keseluruhan, sentimen utama yang diperkirakan akan memengaruhi kinerja sektor emas tetap berasal dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat," ucap Adrian.

Indikasi pelonggaran moneter cenderung menjadi katalis positif bagi harga emas karena statusnya sebagai aset tanpa imbal hasil bunga. Investor juga perlu mencermati tensi geopolitik global dan tren diversifikasi cadangan devisa oleh sejumlah bank sentral dunia.

Thoriq menambahkan bahwa pendapatan berbasis dolar membantu kinerja emiten emas saat operasional menggunakan rupiah. Penguatan dolar meningkatkan nilai konversi pendapatan ke rupiah, meskipun sebagian biaya alat berat dan energi tetap berbasis dolar.

Emiten emas tidak harus menjadi eksportir murni untuk mendapat keuntungan dari penguatan mata uang dolar AS. Emas di pasar domestik tetap mengikuti pergerakan harga komoditas global dan kurs USD/IDR.

Hal ini terbukti dari kinerja kuartal I-2026 milik ANTM dan BRMS yang tetap mencatat lonjakan ASP mengikuti harga emas global walau mayoritas penjualan diserap pelanggan domestik.

"Jadi, faktor terpenting bukan hanya ekspor atau domestik, melainkan apakah harga jual emiten terekspos pada harga emas global dan apakah struktur biayanya efisien," ucap Thoriq.

Kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam dan rencana kontrol ekspor komoditas dapat membatasi fleksibilitas pengelolaan kas valas.

"Jadi, basis ekspor tetap positif, tetapi perlu dilihat bersama risiko regulasi dan kebutuhan modal kerja masing-masing emiten," imbuh Thoriq.

Terkait rekomendasi, Thoriq menyarankan beli saham ANTM di area 3.100 – 3.120 dengan target harga Rp 3.300 dan stoploss di level 2.880. Saham BRMS direkomendasikan beli di area 630-635 dengan target harga Rp 700 dan stoploss di level 505.

Wafi merekomendasikan beli saham ANTM dengan target harga Rp 4.250, beli saham BRMS dengan target Rp 820, beli saham ARCI dengan target Rp 1.550, serta wait and see untuk saham MDKA.

Adrian menilai saham ANTM menarik diperhatikan dengan potensi target harga terdekat berada di area Rp 3.280 per saham.

Artikel terkait

Rekomendasi