Mayoritas emiten yang tergabung dalam indeks LQ45 dilaporkan berhasil mencetak pertumbuhan laba positif pada kuartal I/2026. Capaian ini diraih di tengah tekanan global serta tingginya volatilitas yang membayangi pasar keuangan dunia.
Dikutip dari Market, ketahanan fundamental sejumlah emiten berkapitalisasi besar ini ditopang oleh langkah efisiensi operasional. Selain itu, stabilnya permintaan domestik dan momentum harga komoditas menjadi faktor pendukung resiliensi korporasi tanah air.
Beberapa perusahaan bahkan membukukan lonjakan laba yang sangat signifikan. PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) memimpin dengan pertumbuhan laba mencapai 669,9% secara tahunan (year on year/YoY).
Kinerja impresif juga ditunjukkan oleh PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang labanya melesat 450,9% YoY. Sementara itu, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 282,3% YoY pada periode yang sama.
Sektor perbankan turut memperlihatkan daya tahan yang kuat dalam menghadapi ketidakpastian pasar. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) membukukan kenaikan laba bersih sebesar 13,3% YoY.
Di sisi lain, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatatkan pertumbuhan laba mencapai 16,6% YoY. Emiten berbasis komoditas seperti PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) juga tetap mencatatkan kinerja solid.
Oktavianus Audi, VP Marketing, Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa realisasi laba pada kuartal I/2026 ini melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya sempat diliputi pesimisme.
Menurutnya, kondisi ini terjadi meski pasar dibayangi oleh tingginya suku bunga global dan tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Ketidakpastian arus modal asing juga menjadi tantangan tersendiri dalam periode tersebut.
"Momentum ini harus dilihat lebih selektif, apakah merupakan pemulihan laba yang berkelanjutan atau sekadar lonjakan laba yang sifatnya siklikal dan one-off," ujar Audi.
Audi menilai valuasi saham-saham big caps dalam indeks LQ45 kini berada pada level yang lebih sehat. Hal ini merupakan dampak dari de-rating akibat aksi jual investor asing serta penyesuaian bobot indeks MSCI.
Pelemahan nilai tukar rupiah juga turut memengaruhi penyesuaian harga saham di pasar. Menanggapi kondisi tersebut, Kiwoom Sekuritas memberikan rekomendasi pada tiga sektor pilihan, yaitu perbankan, konsumer, dan energi.
Kelompok perbankan besar tetap menjadi proksi utama investasi karena struktur dana murah (CASA) yang kuat. Kualitas aset yang stabil dianggap mampu menjamin pertumbuhan laba yang lebih berkelanjutan bagi investor dalam jangka panjang.
Untuk sektor konsumer, daya tarik utama terletak pada sifatnya yang defensif sekaligus menjadi instrumen pemulihan. Sektor ini diprediksi tetap tangguh selama inflasi domestik terkendali dan daya beli masyarakat terjaga.
Terkait sektor energi, peluang investasi yang ditawarkan lebih bersifat taktikal. Hal ini didasarkan pada eskalasi geopolitik global yang terus menyokong harga komoditas agar tetap berada di level tinggi.