Laba Industri Fintech Lending Turun Menjadi Rp 680 Miliar

Laba Industri Fintech Lending Turun Menjadi Rp 680 Miliar

Laba industri fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring mengalami penurunan sebesar 21,68 persen Year on Year (YoY) hingga mencapai Rp 680 miliar per Maret 2026, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dilansir dari Keuangan.

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mengungkapkan bahwa penurunan laba bersih industri pinjaman daring tersebut dipicu oleh sejumlah tantangan pasar yang cukup tinggi.

"Selain itu, banyaknya pengguna dengan credit scoring buruk sangat memengaruhi turunnya profit," ungkap Ketua Umum AFPI Entjik Djafar kepada Kontan, Selasa (19/5).

Kondisi ekosistem tersebut diantisipasi oleh hampir seluruh penyelenggara fintech lending dengan mengalokasikan dana operasional yang cukup tinggi untuk bekerja sama dengan perusahaan credit scoring.

Langkah pengetatan analisis kelayakan kredit ini berdampak pada kenaikan Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) fintech lending dari 77,88 persen per Maret 2025 menjadi 86,68 persen per Maret 2026.

Untuk meningkatkan profitabilitas di masa mendatang, pelaku industri diimbau untuk lebih selektif dalam menyaring calon borrower demi menjaga kualitas pembiayaan.

Di sisi lain, pelaku usaha seperti PT Amartha Mikro Fintek (Amartha) menerapkan strategi penegasan tata kelola yang prudent dan disiplin manajemen risiko guna mempertahankan profitabilitas.

"Ditambah, pemanfaatan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan efisiensi operasional," kata VP Public Relations Amartha Harumi Supit kepada Kontan.

Langkah lanjutan dari Amartha ke depan berfokus pada penguatan ekosistem, inovasi teknologi, serta penyaluran pinjaman yang aman.

Meskipun laba industri menurun, OJK mencatat outstanding pembiayaan fintech P2P lending tetap tumbuh 26,25 persen YoY mencapai Rp 101,03 triliun per Maret 2026.

Sementara itu, tingkat risiko kredit macet agregat atau TWP90 industri per Maret 2026 berada di level 4,52 persen, meningkat dari posisi Maret 2025 yang sebesar 2,77 persen, namun membaik dari posisi Februari 2026 yang sempat menyentuh 4,54 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi