Saudi Aramco mencatatkan lonjakan laba bersih disesuaikan sebesar 26 persen secara tahunan pada kuartal I 2026 setelah pengoperasian penuh pipa utama memungkinkan ekspor minyak menghindari Selat Hormuz yang tengah terganggu. Berdasarkan data yang dilansir dari Detik Finance pada Senin (11/5/2026), pencapaian ini melampaui estimasi awal para analis.
Perolehan laba bersih perusahaan mencapai US$ 33,6 miliar atau setara Rp 581,28 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.300. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$ 26,6 miliar atau Rp 460,18 triliun.
Jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, pertumbuhan laba Aramco terpantau melonjak hingga 34 persen dari posisi US$ 25,1 miliar. Hasil aktual ini berada di atas ekspektasi para analis yang memprediksi keuntungan perusahaan hanya akan menyentuh level US$ 31,2 miliar.
Optimalisasi infrastruktur distribusi menjadi faktor kunci keberhasilan perusahaan dalam menjaga arus pasokan energi ke pasar internasional. CEO Aramco Amin Nasser menjelaskan bahwa East-West Pipeline kini beroperasi pada kapasitas maksimum 7 juta barel per hari untuk mengatasi hambatan di Selat Hormuz.
"East-West Pipeline telah membuktikan diri sebagai jalur pasokan yang sangat penting, membantu meredam dampak guncangan energi global dan memberikan bantuan bagi pelanggan yang terdampak hambatan pengiriman di Selat Hormuz," ujar Amin Nasser, CEO Aramco.
Kondisi geopolitik di wilayah tersebut memicu kekhawatiran pasar setelah blokade Iran terhadap Selat Hormuz dilaporkan mengakibatkan hilangnya hampir 1 miliar barel minyak. Defisit pasokan energi global ini terus memburuk setiap harinya selama jalur pelayaran strategis tersebut tidak dapat diakses.
Ketegangan semakin meningkat menyusul insiden penembakan rudal oleh Iran ke Uni Emirat Arab serta serangan Amerika Serikat terhadap dua kapal tanker Iran pada Jumat lalu. Situasi tersebut mendorong harga minyak mentah Brent ditutup menguat 1 persen ke level US$ 101,29 per barel.
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS mengakhiri perdagangan di posisi US$ 95,42 per barel. Secara kumulatif sepanjang kuartal I, harga Brent telah meroket 95 persen dan mencatatkan kenaikan total 67 persen sejak awal tahun 2026.