BI Siapkan Tujuh Langkah Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

BI Siapkan Tujuh Langkah Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memastikan nilai tukar rupiah akan kembali stabil dan menguat meskipun saat ini posisinya berada di bawah nilai wajarnya pada Selasa (5/5/2026). Kepastian tersebut disampaikan usai pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto guna membahas ketahanan ekonomi nasional.

Kekuatan fundamental ekonomi Indonesia menjadi landasan optimisme otoritas moneter dalam menghadapi tekanan pasar global, sebagaimana dilansir dari Ekonomi. Perry menekankan bahwa indikator utama seperti inflasi yang terkendali dan cadangan devisa yang solid tetap menjadi penyangga utama mata uang Garuda.

"Tadi dibahas dan mendapatkan arahan dari Bapak Presiden mengenai nilai tukar. Berkaitan dengan dua hal penting mengenai nilai tukar," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.

Penjelasan mengenai kondisi fundamental ini juga diperkuat dengan data pertumbuhan ekonomi dan penyaluran kredit yang tetap positif. Perry menegaskan bahwa status undervalue rupiah saat ini tidak mencerminkan kekuatan ekonomi Indonesia yang sebenarnya.

"Bahwa yang pertama nilai tukar sekarang itu undervalue. Undervalue dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat. Kenapa undervalue? Tadi disampaikan oleh Pak Menko Perekonomian, fundamental kita itu kuat," ucap Perry Warjiyo.

Pelemahan jangka pendek dipicu oleh kombinasi sentimen eksternal berupa kenaikan suku bunga Amerika Serikat dan faktor musiman domestik. Permintaan dolar AS cenderung meningkat pada kuartal kedua untuk keperluan pembayaran utang luar negeri dan dividen.

"Nah, kenapa dalam jangka pendek ini ada tekanan-tekanan nilai tukar? Sebabnya ada dua yaitu ada faktor global dan kemudian pada faktor-faktor musiman," imbuh Perry Warjiyo.

Bank Indonesia merespons kondisi ini dengan melakukan intervensi aktif di berbagai pasar keuangan internasional untuk menjamin ketersediaan likuiditas. Cadangan devisa dipastikan dalam posisi yang cukup untuk meredam fluktuasi yang berlebihan.

"Kami akan terus melakukan intervensi secara tunai dan Domestic Non-Deliverable Forward di dalam negeri dan juga Non-Deliverable Forward NDF di pasar luar negeri di Hong Kong, di Singapura, di London, di New York, kami terus akan melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah baik di dalam negeri maupun dari luar negeri. Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu," tutur Perry Warjiyo.

Koordinasi dengan pemerintah juga dilakukan melalui pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder yang nilainya telah menembus angka Rp123,1 triliun. Langkah ini dibarengi dengan optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.

"BI akan terus membeli SBN dari pasar sekunder. Ini koordinasi sudah awal tahun koordinasikan dan kita lakukan."

BI turut memperketat pengawasan terhadap transaksi valuta asing dengan menurunkan batas pembelian bulanan bagi individu tanpa dokumen pendukung. Kebijakan ini bertujuan untuk menekan spekulasi yang dapat memperburuk volatilitas rupiah.

"Yang dulunya US$100.000 dolar per orang per bulan kita turunkan US$50.000 dolar per orang per bulan," kata Perry Warjiyo.

Pengawasan ketat kini diarahkan pada institusi perbankan dan perusahaan dengan volume pembelian dolar yang signifikan. Bank Indonesia bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan guna memantau aktivitas transaksi tersebut secara intensif.

"Nomor tujuh adalah peningkatan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi yang terutama kami lihat bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolarnya tinggi kami kirim pengawas ke sana, koordinasi dengan Bu Frederica Widyasari dari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga," tandas Perry Warjiyo.

Artikel terkait

Rekomendasi