Tiga raksasa lembaga pemeringkat kredit dunia secara serentak merilis peringkat utang perdana untuk PT Danantara Investment Management (DIM). Lembaga tersebut adalah Moody’s, Fitch Ratings, dan S&P Global Ratings.
Seperti dikutip dari Suara, ketiga lembaga internasional ini sepakat menempatkan Danantara pada level Investment Grade atau layak investasi kelas menengah bawah. Moody's memberikan peringkat Baa2 dengan prospek Negatif, Fitch menyematkan rating BBB, sedangkan S&P merilis angka BBB/A-2 dengan prospek Stabil.
Para pelaku pasar modal dan investor institusional kini menyoroti rincian metodologi penilaian tersebut. Ketiga lembaga global ini secara bulat menolak menilai Danantara berdasarkan kekuatan finansial atau operasional mandirinya.
Pemberian rating ini didasari atas pandangan bahwa Danantara murni sebagai kepanjangan tangan dari neraca keuangan pemerintah Indonesia. Lembaga global tidak melihat perusahaan ini sebagai manajer investasi yang independen.
Moody's Ratings secara eksplisit tidak memberikan penilaian kredit mandiri atau Baseline Credit Assessment (BCA). Operasional perusahaan dinilai melekat total dengan pemerintah sehingga Moody's menggunakan metode Top-Down.
Fokus penilaian dari Moody's ditekankan pada besaran komitmen dan kemampuan pemerintah untuk memberikan dana darurat. Penilaian tidak didasarkan pada kekuatan internal Danantara.
Fitch Ratings memvalidasi kondisi ini dengan memberikan skor dukungan pemerintah sebesar 55 dari total 60 poin berdasarkan indikator Government-Related Entities (GRE). Skor tinggi ini masuk dalam klasifikasi Virtually Certain atau hampir pasti.
Klasifikasi tersebut berarti investor yang membeli surat utang Danantara sebenarnya murni mengandalkan jaminan talangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). S&P Global Ratings juga mengambil langkah serupa dengan tidak mengeluarkan profil kredit mandiri perusahaan.
Bagi S&P, performa bisnis independen dari Danantara bukan menjadi penentu utama rating. Faktor sokongan negara terhadap lembaga superholding ini dinilai sudah absolut.
Dunia internasional menilai lembaga ini belum teruji sebagai pencipta nilai tambah yang mampu berdiri sendiri tanpa sokongan modal negara. Faktor ini menyebabkan peringkat Danantara tertahan di level BBB menengah bawah.
Selain itu, terdapat ketergantungan risiko yang mutlak terhadap kondisi makroekonomi Republik Indonesia. Perbedaan prospek antara Moody's yang bernilai negatif dan S&P yang stabil tidak menggambarkan kinerja manajemen internal Danantara.
Dinamika ini terjadi karena nasib peringkat utang Danantara dikunci mati dengan peringkat utang negara atau Sovereign Rating. Model bisnis perusahaan sangat menyatu dengan keuangan negara sehingga risiko keduanya dinilai tumpang tindih.
Saat Moody's dan Fitch melihat prospek utang Indonesia cenderung melemah, peringkat Danantara otomatis ikut terseret ke arah negatif. Sebaliknya, S&P masih melihat kondisi fiskal Indonesia stabil sehingga rating Danantara ikut dipertahankan di posisi stabil.
S&P memberikan catatan bahwa rating perusahaan akan langsung dipangkas jika rating negara mengalami penurunan. Alasan ketiga yang menjadi perhatian serius bagi pemegang saham publik di bursa adalah mengenai sumber pendapatan dan intervensi kebijakan.
Berdasarkan analisis kuantitatif dari S&P, arus kas utama Danantara diproyeksikan akan sangat bergantung pada setoran dividen perusahaan BUMN. Perkiraan nilai setoran tersebut mencapai USD 5 milar hingga USD 6 milar per tahun.
Pengalihan arus kas jumbo ini berpotensi mengurangi jatah dividen yang seharusnya diterima oleh investor publik atau masuk langsung ke pos pendapatan APBN reguler. Lembaga pemeringkat internasional juga menyoroti adanya intervensi kebijakan dalam penempatan modal.
S&P mencatat adanya kewajiban alokasi modal Danantara pada proyek pembangkit listrik tenaga sampah. Kewajiban ini didasarkan pada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025.
Fakta tersebut memperkuat kekhawatiran pasar bahwa fungsi komersial lembaga ini telah dicampuradukkan dengan tugas mendanai proyek infrastruktur populis. Proyek infrastruktur jenis ini umumnya memiliki tingkat pengembalian modal yang sangat tipis.
Peringkat kredit di level BBB atau Baa2 dari para pemeringkat global ini pada dasarnya bukanlah sebuah penghargaan atas sehatnya tata kelola investasi di internal Danantara. Angka tersebut merupakan kalkulasi matematis dari nilai penjaminan terselubung yang disediakan oleh dana APBN.