Lifting Minyak PHE Kuartal I 2026 Tertekan Gangguan Teknis dan Geopolitik

Lifting Minyak PHE Kuartal I 2026 Tertekan Gangguan Teknis dan Geopolitik

PT Pertamina Hulu Energi membukukan realisasi angka lifting minyak sebesar 475 ribu barel per hari sepanjang periode Januari hingga April 2026. Seperti diberitakan oleh Suara, subholding up-stream komoditas migas nasional ini menghadapi tantangan berat akibat penurunan volume produksi di sejumlah ladang migas utama.

Akumulasi capaian strategis tersebut ditopang oleh performa produksi sumur domestik sebesar 367 ribu bph. Selain itu, terdapat tambahan kontribusi dari portofolio produksi internasional yang menyumbang sebanyak 109 ribu bph.

Eskalasi ketegangan geopolitik dan konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu menjadi pemicu utama merosotnya produksi eksternal. Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, mengungkapkan bahwa konflik militer di kawasan Timur Tengah tersebut secara langsung berdampak pada operasi bisnis luar negeri Pertamina.

Indonesia terpaksa kehilangan potensi lifting minyak mentah yang sangat masif dari blok lapangan West Qurna yang terletak di Irak. Akibat situasi keamanan, operasional fasilitas tersebut sempat dihentikan sepenuhnya atas permintaan pemerintah setempat.

"Beberapa hari setelah perang, pemerintah Irak meminta lapangan tersebut harus di-shut-in, harus dimatikan. Di situ kita kehilangan sekitar 100 ribu barrel oil per day," ungkap Awang saat menggelar rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI yang dikutip pada Selasa (26/5/2026).

Otoritas proteksi ladang minyak West Qurna saat ini telah memberikan izin bagi fasilitas tersebut untuk beroperasi kembali. Namun, kapasitas produksinya masih berjalan sangat terbatas dan mandek di level 10 persen saja, serta seluruh hasil sisa produksi saat ini wajib dialokasikan secara eksklusif untuk memenuhi kebutuhan energi domestik Irak.

Selain dipukul oleh faktor geopolitik internasional, komoditas hulu PHE juga didera oleh kendala teknis di ruang lingkup domestik. Penurunan volume produksi yang cukup signifikan dilaporkan menimpa wilayah kerja komersial Blok Rokan akibat insiden kebocoran pipa penyalur gas selama 20 hari berturut-turut.

"Itu yang menyebabkan average produksi minyak kita terutama di Rokan menurun cukup tajam," jelas Awang memaparkan draf evaluasi teknisnya.

Tantangan pemenuhan target hulu migas ini juga menerpa wilayah kerja Banyu Urip di Blok Cepu, Jawa Timur. Blok yang dikelola secara kemitraan oleh PHE bersama raksasa energi ExxonMobil tersebut mengalami hambatan laju produksi akibat adanya keterbatasan draf kapasitas pada fasilitas penunjang di lapangan.

"Itu adalah isu utama yang kita alami di kuartal pertama 2026 ini, sehingga saat ini produksi kami hanya mencapai untuk domestik 367 ribu barel," kata Awang.

Artikel terkait

Rekomendasi