Investor kawakan Lo Kheng Hong terpantau meningkatkan kepemilikan sahamnya pada PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) secara drastis di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Aksi akumulasi ini bertepatan dengan sentimen negatif pasar akibat didepaknya 19 emiten Indonesia dari indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Rabu (13/5/2026).
Sebagaimana dilansir dari Money, IHSG merosot 1,38 persen ke level 6.763,94 pada pembukaan perdagangan sesi I menyusul pengumuman rebalancing indeks tersebut. Berdasarkan data keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), posisi saham Lo Kheng Hong di produsen ban tersebut melonjak menjadi 232.792.900 lembar pada akhir April 2026.
Jumlah tersebut menunjukkan penambahan masif dibandingkan posisi akhir Maret 2026 yang hanya sebesar 14.760.100 saham. Strategi investasi berbasis valuasi murah yang dijalankan Lo Kheng Hong ini menempatkan dirinya sebagai salah satu pemegang saham publik terbesar di GJTL dengan kepemilikan melampaui ambang batas 5 persen.
Kondisi pasar secara luas justru tertekan setelah MSCI merilis hasil tinjauan berkala yang mengeluarkan sejumlah emiten besar dari indeksnya. Enam perusahaan besar seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) resmi keluar dari MSCI Global Standard Indexes.
Selain itu, 13 emiten lainnya termasuk PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) didepak dari MSCI Small Cap Indexes. Perubahan komposisi indeks global ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada 1 Juni 2026 mendatang setelah penutupan perdagangan di akhir Mei.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan tanggapan mengenai fluktuasi yang terjadi di pasar modal nasional tersebut. Penurunan harga saham yang terjadi dinilai sebagai respons teknis yang lazim terjadi setiap ada perubahan konstituen indeks internasional.
"koreksi pasar pasca rebalancing MSCI masih tergolong wajar dan menjadi bagian dari proses reformasi pasar modal Indonesia" kata Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Meskipun pasar saham domestik sedang mengalami volatilitas, saham GJTL sendiri masih mencatatkan pertumbuhan signifikan sepanjang tahun berjalan. Hingga Mei 2026, harga saham emiten otomotif tersebut telah menguat 11,79 persen atau naik sebesar 125 poin jika dibandingkan dengan posisi awal tahun.