Sejumlah bank syariah di Indonesia mencatatkan kenaikan signifikan pada bisnis emas di tengah fluktuasi harga logam mulia yang terjadi pada Jumat (15/5/2026). Tren positif ini didorong oleh peningkatan literasi masyarakat yang menjadikan emas sebagai instrumen investasi aman atau safe haven.
Harga emas Antam terpantau turun Rp 20.000 menjadi Rp 2.819.000 per gram dibandingkan hari sebelumnya, dilansir dari Keuangan melalui laman logammulia.com. Kondisi ini justru memacu pertumbuhan fee based income (FBI) di sektor perbankan syariah, terutama pada PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).
Hingga kuartal I-2026, kontribusi FBI terhadap total pendapatan BSI mencapai 22,98 persen. Sektor emas menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 705 miliar, atau tumbuh sebesar 125 persen secara tahunan.
Direktur Finance and Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho, mengungkapkan bahwa minat masyarakat untuk berinvestasi tetap tinggi meski harga terus bergerak dinamis. Perseroan menekankan pentingnya penggunaan emas untuk kebutuhan masa depan dibandingkan spekulasi jangka pendek.
"Strategi yang ingin kita jalankan adalah memberikan akses dan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia untuk dapat memiliki dan mulai menabung emas," ujar Ade Cahyo Nugroho, Direktur Finance and Strategy BSI.
Manajemen BSI terus melakukan edukasi agar nasabah memanfaatkan emas sebagai persiapan ibadah haji atau investasi jangka menengah. Saat ini, jumlah penabung emas di bank tersebut telah melampaui angka 1 juta nasabah.
"Affordability issue yang dihadapi masyarakat Indonesia bisa kita solve," kata Ade Cahyo Nugroho, Direktur Finance and Strategy BSI.
Peningkatan akses dilakukan melalui fitur bank emas di aplikasi BYOND yang memungkinkan pembelian mulai dari Rp 50.000. Data menunjukkan pembiayaan gadai emas tumbuh 58,3 persen, sementara layanan digital E-mas melonjak lebih dari 2.700 persen.
Pencapaian serupa juga dilaporkan oleh PT Bank BCA Syariah yang mencatat pertumbuhan pembiayaan murabahah emas sebesar 152,8 persen secara tahunan. Hingga April 2026, nilai pembiayaan emas di bank tersebut mencapai Rp 748 miliar.
Presiden Direktur BCA Syariah, Yuli Melati Suryaningrum, menyatakan bahwa peluang bisnis ini masih sangat terbuka lebar sepanjang tahun 2026. Hal ini sejalan dengan pandangan publik yang kian positif terhadap aset logam mulia.
"Pembiayaan emas masih memiliki peluang yang baik di tahun 2026, selaras dengan pandangan masyarakat terhadap emas sebagai instrumen investasi jangka panjang," ujar Yuli Melati Suryaningrum, Presiden Direktur BCA Syariah.
Pertumbuhan di BCA Syariah didukung oleh kolaborasi dengan penyedia emas terpercaya dan sinergi bersama induk usaha, PT Bank Central Asia Tbk. Perseroan menargetkan kontribusi dua digit dari sektor emas terhadap total pembiayaan konsumer tahun ini melalui berbagai kegiatan literasi dan promo.