Lulusan SMK Dominasi Angka Pengangguran di Jakarta Februari 2026

Lulusan SMK Dominasi Angka Pengangguran di Jakarta Februari 2026

Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) menjadi penyumbang utama angka pengangguran di Jakarta pada Februari 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, kelompok tamatan SMK mencatatkan persentase pengangguran paling tinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya di ibu kota.

Data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk lulusan SMK mencapai angka 8,15 persen, sementara lulusan SMA umum menyusul di posisi kedua dengan 7,58 persen. Sebaliknya, dilansir dari Megapolitan, warga dengan latar belakang pendidikan Diploma I/II/III memiliki tingkat pengangguran terendah yang hanya sebesar 3,58 persen.

"Pada Februari 2026, TPT tamatan SMA umum sebesar 7,58 persen," ujar Kadarmanto, Kepala BPS DKI Jakarta dalam keterangan resminya pada Rabu (6/5/2026).

Secara kumulatif, survei Sakernas Februari 2026 menunjukkan terdapat 333.860 orang yang tidak memiliki pekerjaan di Jakarta. Kadarmanto menjelaskan bahwa secara rata-rata, tingkat pengangguran terbuka di Jakarta berada pada angka 6,03 persen.

"Artinya, dari setiap 100 orang angkatan kerja, sekitar enam orang belum bekerja," kata Kadarmanto.

Distribusi pengangguran juga menunjukkan perbedaan berdasarkan gender, di mana TPT laki-laki tercatat sebesar 6,54 persen, lebih tinggi dibandingkan perempuan yang berada di angka 5,28 persen. Sementara itu, total angkatan kerja di Jakarta meningkat menjadi 5,53 juta orang dengan 5,20 juta di antaranya telah terserap di berbagai lapangan usaha.

Tingkat Pengangguran Berdasarkan Jenjang Pendidikan (Februari 2026)
Jenjang PendidikanPersentase TPT (%)
SMK8,15
SMA Umum7,58
SD ke Bawah5,32
SMP3,87
Universitas3,79
Diploma I/II/III3,58

Meskipun jumlah pengangguran masih di atas 300 ribu orang, angka ini sebenarnya mengalami penurunan sebesar 4.540 orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini sejalan dengan meningkatnya penyerapan tenaga kerja di sektor formal yang kini mencapai 61,87 persen dari total pekerja.

"Turun sekitar 4,54 ribu orang dibandingkan Februari tahun 2025," kata Kadarmanto di Jakarta pada Selasa (5/5/2026).

Sektor perdagangan tercatat sebagai penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi 22,40 persen, disusul sektor akomodasi serta makan minum sebesar 13,28 persen. Kadarmanto menambahkan bahwa komposisi pekerja saat ini didominasi oleh kelompok karyawan atau buruh.

"Peningkatan penyerapan tenaga kerja terjadi pada pekerja penuh dan setengah pengangguran, sementara jumlah pekerja paruh waktu mengalami penurunan," ujar Kadarmanto.

Secara makro, tren pengangguran di Jakarta menunjukkan perbaikan tipis dari 6,18 persen pada tahun sebelumnya menjadi 6,03 persen. Penurunan TPT juga terjadi secara konsisten baik pada kelompok laki-laki maupun perempuan dibandingkan data Februari 2025.

"Dengan kata lain, sekitar enam dari 100 orang angkatan kerja di Jakarta merupakan pengangguran," tutur Kadarmanto.

Meskipun TPT perempuan mengalami penurunan menjadi 5,28 persen dari sebelumnya 5,29 persen, angkanya tetap terpantau lebih stabil dibanding laki-laki. Kondisi pasar kerja Jakarta pada awal 2026 ini menunjukkan pergerakan positif meski tantangan keterserapan lulusan pendidikan menengah masih cukup besar.

"Meskipun secara level, ini masih lebih rendah dibandingkan TPT laki-laki," kata Kadarmanto.

Artikel terkait

Rekomendasi