PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memproyeksikan pasar obligasi domestik tahun 2026 masih fluktuatif akibat pengaruh konflik Timur Tengah, tekanan nilai tukar Rupiah, serta arah suku bunga global. Situasi ini memicu pergerakan sensitif pada imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan prospek reksa dana pendapatan tetap.
Fluktuasi instrumen domestik tersebut dipengaruhi langsung oleh ketegangan geopolitik internasional serta dinamika harga minyak mentah. Menurut laporan resmi MAMI pada Selasa (19/5/2026), perkembangan di Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu utama naik turunnya yield SBN di pasar sekunder.
"Sentimen pasar obligasi masih sangat dipengaruhi perkembangan konflik Israel-AS-Iran dan kondisi Selat Hormuz." kata Senior Portfolio Manager Fixed Income MAMI, Syuhada Arief.
Pergerakan yield SBN tenor 10 tahun tercatat sempat turun ke kisaran 6,5 persen pada awal April 2026. Namun, angka imbal hasil tersebut kembali melonjak hingga menyentuh level sekitar 6,8 persen pada akhir bulan yang sama.
Di sisi lain, lonjakan harga komoditas energi global turut memengaruhi proyeksi kebijakan moneter di tingkat internasional. Berdasarkan ulasan Seeking Alpha Mei 2026, tingginya harga minyak dunia membuat Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed diprediksi akan bertindak lebih hati-hati.
Dilema kebijakan juga dihadapi pemerintah domestik dalam menyeimbangkan antara stabilitas keuangan negara dan daya beli masyarakat melalui subsidi energi. Realisasi APBN per Maret 2026 menunjukkan defisit sebesar 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), melebar dari periode sama tahun lalu yang sebesar 0,43 persen.
Kondisi fiskal nasional menghadapi risiko tambahan karena setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS berpotensi memperlebar defisit APBN hingga Rp6,8 triliun. Selain itu, cadangan devisa Indonesia per akhir April 2026 ikut menyusut menjadi 146,2 miliar dolar AS.
Untuk memitigasi risiko volatilitas tersebut, Bank Indonesia mengesahkan kenaikan imbal hasil SRBI tenor 12 bulan dari 4,9 persen di awal tahun menjadi 6,5 persen pada Mei 2026. MAMI sendiri menerapkan strategi investasi dengan menitikberatkan preferensi pada obligasi tenor pendek.
Langkah penempatan portofolio pada tenor pendek diambil demi menjaga keseimbangan durasi di tengah kurva imbal hasil yang cenderung datar. Saat ini, yield SBN tenor 5 tahun berada di angka 6,5 persen, sementara tenor 10 tahun stabil di kisaran 6,6 persen.
| Indikator | Data/Pandangan |
|---|---|
| Yield SBN 10 Tahun | Sempat turun 6,5%, lalu naik ke 6,8% |
| Outlook The Fed | Cenderung menahan suku bunga |
| Harga Minyak | Menjadi faktor utama sentimen pasar |
| Defisit APBN Maret 2026 | 0,93% terhadap PDB |
| Dampak Kenaikan Minyak | US$1 minyak berpotensi tambah defisit Rp6,8 triliun |
| SRBI 12 Bulan | Naik dari 4,9% menjadi 6,5% |
| Cadangan Devisa RI | Turun ke US$146,2 miliar |
| Strategi MAMI | Preferensi obligasi tenor pendek |