Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pemberlakuan mandatori biodiesel 50 persen atau B50 pada 1 Juli 2026 guna memperkuat ketahanan energi nasional. Kebijakan ini mewajibkan setiap satu liter solar mengandung campuran 50 persen Fatty Acid Methyl Esters (FAME) dari minyak sawit mentah.
Pemerintah saat ini tengah menyusun formula harga jual B50 yang tetap mengacu pada regulasi yang berlaku. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyatakan otoritas akan merilis harga patokan secara rutin setiap bulan untuk kepastian pasar.
"Mengikuti formula. Kalau itu mengikuti formula kan tiap bulan kita keluarkan harganya," ungkap Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, saat ditemui di Stasiun Blending B50, Lembang, dilansir dari CNBC Indonesia, Senin (4/5/2026).
Koordinasi intensif sedang dilakukan dengan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi untuk merinci komponen penghitungan Bahan Bakar Nabati (BBN) tersebut. Langkah ini termasuk mengklarifikasi prediksi kebutuhan hingga akhir tahun.
"Kita sedang berhitung dengan Dirjen Migas karena prediksi hingga Desember itu kan perlu diklarifikasi karena ini kan misal ada penghematan ada pembahasan terus nih kalau yang minyak," lanjut Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM.
Implementasi B50 diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun pada 2026 mendatang. Angka ini melampaui target program B40 sebelumnya yang sebesar Rp140 triliun, seiring upaya menekan impor bahan bakar minyak.
"Pasokan tadi kan saya bilang kita sedang berhitung terus tapi cukup kalau saya prediksi cukup FAME-nya cukup," tutur Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM.
Terkait serapan pasar, pemerintah mencatat saat ini penggunaan biodiesel telah mencapai sekitar 25 persen. Target pengurangan impor dipatok hingga 50 persen melalui kebijakan baru ini.
"Kalau itu kita menyesuaikan dengan Dirjen Migas. Target pengurangan impornya kan hitungannya 50%-nya. Sekarang itu serapan biodiesel kira-kira 25% sudah terserap," pungkas Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM.
Di sisi lain, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan adanya risiko tekanan pada pasokan minyak goreng domestik. Pengalihan stok minyak sawit mentah (CPO) ke sektor energi dikhawatirkan memicu kenaikan harga pangan di dalam negeri.
“Secara nominal, produksi CPO nasional memang masih besar. Namun, masalah utamanya bukan sekadar kecukupan produksi, melainkan semakin sempitnya ruang antara pertumbuhan produksi dengan lonjakan konsumsi domestik dan ekspor,” kata Afaqa Hudaya, Peneliti Indef, dilansir dari Bisnis.
Data Gapki menunjukkan stok akhir CPO pada Februari 2026 turun menjadi 2,026 juta ton. Afaqa memprediksi kebutuhan FAME untuk B50 akan mencapai 20,1 juta kiloliter dan menyerap tambahan 5,3 juta ton CPO.
“Risiko kenaikan harga minyak goreng domestik tetap cukup besar karena implementasi B50 pada dasarnya menciptakan permintaan permanen baru terhadap CPO,” ujar Afaqa Hudaya, Peneliti Indef.
Kekhawatiran lain muncul pada aspek daya saing ekspor Indonesia jika pengalihan pasokan dilakukan terlalu agresif. Negara importir besar berpotensi mencari sumber minyak nabati alternatif akibat ketidakpastian pasokan.
“Ancaman terhadap pangsa pasar ekspor Indonesia bukan hanya berasal dari kebijakan domestik B50, tetapi juga dari kombinasi antara harga sawit yang tinggi, biaya logistik global, serta meningkatnya fleksibilitas substitusi dengan minyak nabati,” terangnya Afaqa Hudaya, Peneliti Indef.
Meskipun menantang, biofuel dianggap sebagai solusi transisi energi yang efektif, terutama bagi wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Program ini dipandang sebagai jembatan sebelum Indonesia beralih sepenuhnya ke kendaraan listrik.
"Biofuel bahkan menurut saya bisa menjadi bridging fuel sebelum ke EV," ucap Andry Satrio Nugroho, Kepala Center of Industry, Trade, and Investment INDEF, dilansir dari CNN Indonesia.
Andry menilai infrastruktur biofuel lebih siap menjangkau wilayah pelosok dibandingkan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik. Menurutnya, kedua teknologi tersebut perlu dikembangkan secara berdampingan sesuai kebutuhan wilayah.
"Karena segmennya menurut saya juga berbeda. Di beberapa wilayah masih dibutuhkan (BBM), sembari kita bisa menunggu infrastruktur dari EV-nya tercipta di wilayah tersebut. Saya kira kita perlu mendorong itu (biofuel dan EV) berdampingan," ucap Andry Satrio Nugroho, Kepala Center of Industry, Trade, and Investment INDEF.
Saat ini, uji jalan B50 untuk sektor otomotif sedang berlangsung sejak Desember 2025 dan dijadwalkan selesai pada Mei 2026. Hasil sementara menunjukkan kualitas bahan bakar telah memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan oleh pemerintah.