Dulamin (60), seorang mantan nelayan di Kampung Baru, Cilincing, Jakarta Utara, beralih profesi menjadi peternak kambing Peranakan Etawa di sebuah kandang panggung kayu berukuran 5x5 meter tepat di tepi laut. Dilansir dari Megapolitan pada Jumat (15/5/2026), langkah ini diambil karena faktor usia yang membuatnya tidak lagi kuat melaut.
Awal mula usaha peternakan ini dijalankan oleh Dulamin hanya sebagai pengisi waktu luang setelah puluhan tahun bekerja di laut. Ia mulai belajar secara otodidak dari rekan-rekannya dengan memelihara beberapa ekor kambing betina sebelum akhirnya merambah ke kambing jantan.
"Ya awale iseng-iseng aja," kata Dulamin sambil tersenyum, Jumat (15/5/2026).
Kondisi fisik yang menurun menjadi alasan utama bagi pria yang sudah tujuh tahun terakhir menekuni bidang ini untuk meninggalkan profesi nelayan. Kini, rutinitasnya berganti menjadi merawat ternak di pemukiman pesisir tersebut.
"Kalau udah tua ya udah. Di sini aja. Binatang aja udah," ucap dia.
Proses pengembangan ternak dilakukan secara bertahap dengan bimbingan dari teman sejawatnya. Dulamin menyadari bahwa nilai ekonomi kambing jantan jauh lebih tinggi dibandingkan betina untuk pasar tertentu.
"Pertama betina. Ya berkembang kan. Akhirnya ada yang ngajarin, 'Udah beli aja', katanya, 'yang lelaki'. Jadi kalau jantan itu ya harganya agak lumayan," cerita Dulamin.
Tantangan terbesar merawat hewan ternak di pesisir adalah penyesuaian terhadap cuaca yang panas dan lembap. Ia menyebutkan bahwa kambing yang didatangkan dari luar daerah seringkali tidak mampu bertahan dengan iklim pantai Jakarta.
"Kalau nyari dari kota atau daerah, bawa ke sini enggak kuat. Karena cuacanya beda," ujar Dulamin.
Guna mensiasati hal tersebut, ia lebih memilih membeli kambing yang sudah terbiasa dengan lingkungan setempat atau membeli sisa hewan kurban. Cara ini dianggap lebih efektif dalam menjaga tingkat kelangsungan hidup ternaknya.
"Nah, ini sisaan Lebaran Haji nih saya beli. Daripada dibawa balik lagi kan masih ada sisaan, saya beli," ungkapnya.
Kesehatan kambing dijaga ketat dengan pemberian pakan berupa ampas tempe di pagi hari dan rumput segar sebagai camilan pada sore hari. Dulamin juga menghindari membiarkan ternaknya berkeliaran agar tidak mengonsumsi sampah di sekitar pantai.
"Jadi pagi ampas, baru sore rumput, cemilan," tutur dia.
Pria berusia 60 tahun ini juga rutin memandikan ternak dan membersihkan kandang kayu miliknya. Ia bahkan menyiapkan alat suntik dan obat-obatan sendiri untuk mengantisipasi gangguan kesehatan pada hewan ternaknya.
"Kalau di liaran kan makan sendiri kambing. Cuma makannya apa nemunya. Sampah apa aja dimakanin," kata dia.
Penanganan mandiri dilakukan jika kambing mengalami gangguan pencernaan ringan seperti diare. Menurutnya, perawatan kambing hampir serupa dengan manusia dalam hal penanganan penyakit dasar.
"Ya kalau kambing kan kesusahannya penyakit. Kadang-kadang mencret, doang. Sama kayak orang ya. Cuman disuntik. Ada suntik sendiri," tuturnya.
Mengenai pemasaran, Dulamin menjual kambingnya untuk keperluan akikah dan kurban dengan harga berkisar Rp 6 juta hingga Rp 6,5 juta per ekor. Angka ini jauh lebih murah dibandingkan harga pasar yang bisa mencapai Rp 9 juta karena ia tidak perlu menyewa lapak dagang.
"Kalau Lebaran Haji tahun kemarin cuma laku satu ekor. Nah kalau Lebaran Haji ini, Alhamdulillah udah ada yang datang tiga ekor," tuturnya.
Permintaan dari warga lokal untuk kebutuhan ibadah terus mengalir meskipun lokasi kandang berada di pinggiran laut. Keunggulan harga menjadi daya tarik utama bagi pembeli di kawasan Cilincing.
"Kalau ada orang kadang-kadang datang ke sini. Akikah gitu," ujar dia.
Efisien biaya operasional menjadi kunci mengapa harga jual kambingnya tetap kompetitif. Tanpa biaya sewa lahan di pinggir jalan, keuntungan yang didapat bisa lebih maksimal untuk perawatan harian.
"Karena apa? Karena kita enggak bayar lapaklah," ujar dia.
Meskipun mengakui mulai merasa lelah, semangatnya untuk tetap memelihara kambing tidak surut. Ia menegaskan tidak akan menghentikan usahanya meskipun ada kambing yang tidak laku terjual pada musim kurban tahun ini.
"Ya kagak, terus (dirawat)," imbuhnya saat ditanya apakah kambing-kambing itu akan dipulangkan jika tidak terjual.