Instrumen kas masih menjadi pilihan utama bagi para calon pensiunan di kawasan Asia untuk menyimpan dana hari tua mereka. Berdasarkan laporan Manulife Financial Resilience and Longevity 2025 yang dilansir dari Personalfinance, sekitar setengah dari total simpanan pensiun ditempatkan pada instrumen kas.
Alokasi dana tersebut tersebar di beberapa negara dengan persentase yang bervariasi. Di Indonesia, responden mengalokasikan sekitar 49% dana pensiun mereka di instrumen kas, sedangkan di Hong Kong mencapai 45%. Sementara itu, porsi investasi kas di Filipina dan Malaysia menyentuh angka 51%.
Instrumen kas atau deposito ini dinilai sebagai elemen paling krusial dalam mempersiapkan masa tua. Indonesia mencatat angka tertinggi di Asia dengan 73% responden yang menganggap instrumen kas sangat penting. Filipina menyusul dengan 66%, Malaysia 61%, dan Hong Kong sebesar 55%.
Di sisi lain, daya tarik properti sebagai aset investasi masa pensiun menunjukkan tren penurunan. Di Indonesia, hanya 42% masyarakat yang menganggap properti sebagai instrumen penting untuk hari tua. Angka ini diikuti oleh Filipina sebesar 51%, Malaysia 30%, dan Hong Kong 28%.
Penurunan prioritas ini dipicu oleh anggapan bahwa properti merupakan instrumen yang kurang aman dengan imbal hasil yang tidak sesuai ekspektasi. Responden di bawah usia 45 tahun di Hong Kong dan Filipina juga merasa properti membatasi mereka dalam memaksimalkan potensi instrumen investasi lainnya.
"Menahan terlalu banyak uang tunai dan hanya mengandalkan properti membuat orang rentan terhadap inflasi dan kekurangan pendapatan," ujar Calvin Chiu, Head of Asia Retirement Manulife dan Chief Executive Officer Manulife Investment Management Hong Kong.
Dilema Dana Pensiun versus Properti
Meskipun properti tetap dimasukkan ke dalam portofolio, Manulife menemukan bahwa tiga dari 10 responden kini menganggap prioritasnya telah berkurang. Studi ini juga menunjukkan perbedaan preferensi masyarakat di beberapa negara Asia terkait kepemilikan aset masa depan.
Masyarakat di Hong Kong dan Malaysia lebih memilih untuk memiliki dana pensiun dibandingkan dengan properti. Sebaliknya, masyarakat di Indonesia dan Filipina lebih menyukai investasi properti untuk hari tua daripada memiliki dana pensiun.
Data menunjukkan 57% responden di Malaysia menilai dana pensiun sebagai instrumen investasi yang penting. Sementara di Indonesia, Filipina, dan Hong Kong, jumlah responden yang menganggap dana pensiun penting masing-masing sebesar 32%, 38%, dan 31%.
Walaupun demikian, sekitar dua pertiga responden masih menempatkan properti sebagai salah satu aset masa depan yang dipertimbangkan. Pada saat yang sama, keinginan untuk melakukan diversifikasi investasi ke instrumen yang menghasilkan pendapatan juga mulai meningkat.
Manulife mencatat sebanyak 73% warga Filipina dan 69% warga Indonesia bersedia melakukan diversifikasi portofolio. Porsi kesediaan diversifikasi di Hong Kong berada di angka 63% dan Malaysia sebesar 62%.
Terkait kendala keuangan, sekitar 55% responden di Filipina merasa kepemilikan properti dapat mengurangi jumlah simpanan masa depan mereka. Pandangan serupa juga disetujui oleh 41% responden di Indonesia, 54% di Hong Kong, dan 51% di Malaysia.