Konflik Timur Tengah Paksa Maskapai Global Pangkas Ribuan Penerbangan

Konflik Timur Tengah Paksa Maskapai Global Pangkas Ribuan Penerbangan

Sektor penerbangan internasional mulai menghadapi tekanan berat menyusul pecahnya konflik di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas pasokan bahan bakar jet. Fenomena ini memaksa berbagai maskapai di seluruh dunia untuk merombak jadwal operasional guna menghadapi ketidakpastian distribusi energi global.

Dikutip dari Money, data terkini menunjukkan adanya pengurangan kapasitas secara besar-besaran, dengan sekitar 2 juta kursi dihapus dari jadwal penerbangan untuk periode Mei 2026. Analisis dari Cirium mengungkapkan ribuan jadwal terbang resmi dibatalkan sebagai langkah antisipasi terhadap kelangkaan avtur.

Kenaikan harga bahan bakar menjadi beban utama bagi perusahaan penerbangan sejak perang Iran meletus pada akhir Februari 2026. Tercatat, harga satu ton avtur meroket tajam dari 831 dollar AS menjadi puncaknya di angka 1.838 dollar AS pada awal April 2026, dan kini masih tertahan di level 1.500 dollar AS.

Lonjakan biaya energi ini berdampak langsung pada kenaikan harga tiket, khususnya untuk perjalanan rute jarak jauh. Maskapai besar seperti Air France, KLM, Air Canada, hingga Delta telah mengambil kebijakan untuk memangkas frekuensi penerbangan musim panas mereka demi menjaga efisiensi.

Situasi semakin rumit dengan penutupan sejumlah bandara di wilayah Teluk Persia yang merupakan titik transit krusial. Kawasan ini biasanya melayani sepertiga dari total koneksi perjalanan antara Benua Eropa dan Asia, sehingga gangguannya menciptakan ketimpangan pasokan yang masif.

"Gangguan pada jalur penerbangan tersebut telah menciptakan ketimpangan besar antara pasokan dan permintaan perjalanan global," ujar Benjamin Smith, CEO Air France-KLM.

Asia Menjadi Kawasan Paling Terimbas

Negara-negara di Asia tercatat sebagai pihak yang paling merasakan dampak krisis energi ini karena ketergantungan yang tinggi pada Selat Hormuz. Blokade maritim serta ancaman keamanan di jalur tersebut mengganggu aliran energi yang sangat dibutuhkan industri dirgantara Asia.

Jepang dan Vietnam mulai menerapkan kebijakan drastis untuk menekan penggunaan bahan bakar. All Nippon Airways (ANA) memproyeksikan tambahan pengeluaran hingga 650 juta poundsterling atau sekitar Rp 15,34 triliun untuk biaya bahan bakar hingga Maret tahun depan.

Sementara itu, Japan Airlines memprediksi perolehan laba mereka akan tergerus hingga 20 persen. Meski sempat mendapat keuntungan dari tingginya permintaan perjalanan ke Eropa, margin laba maskapai Jepang kini terancam oleh tingginya biaya operasional.

Adaptasi Strategi Maskapai

Menghadapi keterbatasan pasokan, maskapai mulai mengganti armada mereka dengan pesawat yang lebih kecil namun memiliki efisiensi bahan bakar yang lebih baik. Sebagai contoh, Etihad mengganti Airbus A350 dengan Boeing 787 yang memiliki kapasitas kursi lebih sedikit untuk rute Abu Dhabi menuju Hong Kong.

Emirates juga dilaporkan mengurangi penggunaan armada pada beberapa rute utama karena penurunan permintaan. Saat ini, maskapai tersebut hanya beroperasi sekitar dua pertiga dari total kapasitas yang dimiliki sebelum konflik pecah.

Namun, penyesuaian ini tidak seragam di semua rute. Beberapa maskapai tetap mempertahankan kapasitas besar untuk destinasi tertentu yang permintaannya masih stabil, seperti penggunaan Airbus A380 oleh Emirates untuk rute Dubai-Brisbane atau Boeing 777 milik Air France ke Mumbai.

Skala Pembatalan dan Peringatan Global

Data dari Cirium menunjukkan total kapasitas kursi global merosot dari 132 juta menjadi 130 juta pada akhir April. Sekitar 13.000 penerbangan internasional dibatalkan pada Mei 2026, dengan destinasi seperti Munich dan Istanbul menjadi yang paling terdampak.

Lufthansa bahkan merencanakan pembatalan hingga 20.000 penerbangan hingga Oktober 2026 karena banyak rute dianggap tidak lagi ekonomis. IATA dan IEA telah mengeluarkan peringatan bahwa Eropa berpotensi mengalami kekurangan bahan bakar jet yang parah pada Juni mendatang.

Analis penerbangan John Strickland menilai situasi kelangkaan saat ini merupakan kondisi luar biasa yang jarang terjadi dalam sejarah industri. Ia menekankan bahwa maskapai Eropa kini sangat berhati-hati dalam mengirim pesawat ke Asia jika ada risiko kekurangan bahan bakar untuk perjalanan pulang.

Penumpang kini harus bersiap dengan konsekuensi biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge yang mulai diterapkan secara luas. Sebagai ilustrasi, maskapai Volotea telah memberlakukan tambahan biaya hingga 14 euro atau sekitar Rp 285.488 per penumpang sebagai respons terhadap fluktuasi harga energi.

Artikel terkait

Rekomendasi