Calon pensiunan di Indonesia tercatat menjadi yang paling optimistis memiliki dana yang cukup untuk menghadapi hari tua dibandingkan negara-negara lain di Asia. Temuan tersebut dipublikasikan pada Selasa (18/11/2025) melalui laporan Manulife Financial Resilience and Longevity 2025, seperti dilansir dari Personalfinance.
Survei tersebut menunjukkan bahwa Indonesia merupakan pasar dengan tingkat kepercayaan diri tertinggi karena sebanyak 77 persen responden yakin tabungan mereka memadai. Tingkat optimisme ini jauh melampaui negara tetangga seperti Malaysia yang mencatatkan tingkat kepercayaan diri sedang sebesar 58 persen.
Kondisi berbeda terlihat di Filipina, di mana hanya 52 persen responden yang merasa siap secara finansial menghadapi masa pensiun. Sementara itu, tingkat keyakinan paling rendah ditemukan di Hong Kong dengan hanya sekitar 48 persen responden yang percaya diri memiliki dana cukup.
Laporan ini juga menyoroti perubahan pola pikir masyarakat Indonesia yang kini lebih terbuka untuk mendiversifikasi portofolio investasi mereka. Sebanyak 69 persen responden di Indonesia saat ini memilih untuk mengalihkan fokus pada instrumen investasi yang menghasilkan pendapatan konvensional daripada sekadar memiliki aset properti.
Masyarakat Asia secara umum mulai mengubah cara pandang mereka terhadap masa tua seiring dengan peningkatan usia harapan hidup. Pergeseran nilai ini mencakup fokus yang lebih besar pada kualitas hidup, kesehatan, serta kemandirian finansial.
"Kini, pensiun bukan sekadar hidup lebih lama, tetapi hidup lebih baik. Kemandirian finansial, kesehatan, dan kesejahteraan menjadi tolok ukur kesuksesan di era baru ini," kata Calvin Chiu, Head of Asia Retirement Manulife sekaligus Chief Executive Officer Manulife Investment Management Hong Kong.
Meskipun ada pergeseran pola pikir, portofolio keuangan sebagian besar masyarakat Asia saat ini masih didominasi oleh uang tunai, yang mencakup sekitar setengah dari total investasi non-properti mereka. Sikap defensif ini dipicu oleh rasa takut mengalami kerugian serta keterbatasan pengetahuan mengenai instrumen investasi berimbal hasil tinggi.
Properti yang dulunya dipandang sebagai fondasi utama jaminan masa tua kini mulai kehilangan dominasinya. Data survei menunjukkan bahwa hanya tiga dari sepuluh responden di wilayah Asia yang masih menganggap kepemilikan properti sebagai prioritas utama mereka.
"Menahan terlalu banyak uang tunai dan hanya mengandalkan properti membuat orang rentan terhadap inflasi dan kekurangan pendapatan," ujar Chiu.
Riset tersebut turut membuktikan adanya korelasi kuat antara pemanfaatan jasa perencana keuangan profesional dengan tingkat kepercayaan diri responden. Di Indonesia, kesiapan finansial melonjak hingga 89 persen bagi mereka yang menggunakan penasihat profesional, dibandingkan 63 persen pada kelompok yang mengelola dana secara mandiri.
Kesenjangan yang lebih mencolok terjadi di Hong Kong, di mana 62 persen pengguna jasa perencana keuangan merasa percaya diri, berbanding terbalik dengan hanya 29 persen responden non-pengguna yang merasakan hal serupa.
"Saran dari profesional bisa membuat perbedaan besar. Dengan bimbingan yang tepat, orang dapat beralih dari sekadar menabung menjadi berinvestasi aktif, sehingga memiliki kendali lebih atas pendapatan dan gaya hidup di masa depan," imbuh Chiu.
Di sisi lain, tantangan besar masih dihadapi oleh kelompok usia paruh baya dalam rentang 45 hingga 54 tahun yang tercatat sebagai kelompok paling pesimistis di Asia. Fenomena ini memperkuat urgensi dilakukannya langkah-langkah perencanaan finansial yang jauh lebih proaktif sebelum memasuki usia pensiun.