Mata uang di kawasan Asia diproyeksikan terus mengalami tekanan hingga akhir tahun 2026 akibat tingginya harga minyak mentah dunia dan potensi penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Lonjakan harga energi tersebut dinilai paling rentan berdampak pada negara-negara importir minyak seperti Indonesia, India, dan Filipina.
Pergerakan nilai tukar pada Jumat (22/5/2026) pukul 16.00 WIB menunjukkan pelemahan pada ketiga mata uang tersebut, sebagaimana dilansir dari Investasi melansir Trading Economics. Rupiah berada di level Rp 17.707 per dolar AS atau melemah 2,15 persen dalam sebulan terakhir, sedangkan rupee India melemah 1,89 persen ke level 95,87 per dolar AS, dan peso Filipina menyusut 2,10 persen ke posisi 61,72 per dolar AS.
Kondisi ini mendapat perhatian dari pengamat pasar keuangan yang melihat ketergantungan besar ketiga negara terhadap impor energi menjadi faktor utama sensitivitas mereka. Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa rupiah saat ini berada dalam posisi rentan akibat kombinasi arus modal keluar, tingginya kebutuhan impor energi, serta sentimen domestik yang belum sepenuhnya mendukung penguatan.
βHingga akhir 2026, valas Asia kemungkinan masih volatil selama harga minyak masih tetap tinggi dan ekspektasi The Fed menaikkan suku bunga akhir tahun ini meningkat,β ujar Lukman.
Di sisi lain, rupee India dinilai relatif lebih stabil karena ditopang fundamental ekonomi yang kuat serta cadangan devisa yang memadai, sedangkan peso Filipina menjadi yang paling sensitif akibat bayang-bayang defisit transaksi berjalan. Terkait investasi, rupee dianggap menarik bagi investor karena prospek pertumbuhan ekonomi yang solid, sementara rupiah dinilai menarik dari sisi valuasi karena harganya yang sudah murah meskipun masih dipengaruhi dinamika arus modal asing.
Lukman juga menyoroti dolar Singapura yang layak diperhatikan sebagai aset defensif di kawasan Asia karena didukung fundamental fiskal yang kuat serta neraca perdagangan yang solid. Selain itu, yuan China dinilai memiliki prospek cukup baik mengingat posisi negara tersebut sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia dengan stabilitas ekonomi yang relatif terjaga.
Untuk rentang pergerakan mata uang hingga semester I-2026, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 17.300βRp 17.900 per dolar AS. Sementara itu, rupee India diproyeksikan berada pada level 95β98 per dolar AS, peso Filipina di kisaran 61β63 per dolar AS, yuan China pada rentang 0,67β0,68 per dolar AS, dan dolar Singapura berpotensi berada di kisaran 1,26β1,28 per dolar AS.