Media Singapura menyoroti kondisi perekonomian Indonesia setelah nilai tukar rupiah melemah tajam dan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ambruk ke level terendah dalam lima tahun terakhir pada perdagangan Rabu (3/6).
Kondisi pasar modal dan mata uang Garuda ini menjadi perhatian internasional karena mencerminkan pandangan dunia terhadap situasi ekonomi domestik saat ini, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Laporan asing tersebut mencatat pasar modal Indonesia mengalami penurunan nilai total sekitar 32% sepanjang tahun 2026 berjalan, dipicu oleh anjloknya IHSG sebesar 5,2% sebelum akhirnya ditutup melemah 4,1% pada hari Rabu.
"Indeks ini sudah menjadi indeks dengan kinerja terburuk tahun ini di antara lebih dari 90 indeks ekuitas global yang dilacak oleh Bloomberg," tulis The Straits Times.
Media asal Singapura itu menggarisbawahi bahwa posisi bursa saham Indonesia merosot tajam dibandingkan dengan indeks global lainnya di tengah kekhawatiran investor.
"Pergerakan mata uang dan pasar saham terjadi setelah data pada 2 Juni menunjukkan surplus perdagangan Indonesia hampir lenyap pada bulan April karena kenaikan harga minyak dan gas impor melampaui kenaikan ekspor," jelas media asal Singapura itu.
Penurunan kinerja ini juga beriringan dengan depresiasi nilai tukar rupiah yang tercatat melemah sekitar 0,5% terhadap dolar AS dan dolar Singapura.
"Pergerakan mata uang dan pasar saham terjadi setelah data pada 2 Juni menunjukkan surplus perdagangan Indonesia hampir lenyap pada bulan April karena kenaikan harga minyak dan gas impor melampaui kenaikan ekspor," jelas media asal Singapura itu.
Hingga Rabu pukul 17.24, mata uang Indonesia diperdagangkan pada level 14.001 per dolar Singapura atau merosot 8,6% sejak awal tahun 2026.
"Cadangan devisa negara turun pada bulan April ke level terendah dalam hampir dua tahun karena bank sentral meningkatkan intervensi untuk mempertahankan rupiah," papar The Straits Times.
Kondisi penurunan cadangan devisa tersebut berimplikasi pada meningkatnya risiko penurunan peringkat kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch Ratings dan Moody's Ratings.
"Indeks Komposit Jakarta telah turun setiap bulan pada tahun 2026 dan berada di jalur untuk mengalami kerugian tahunan terbesar sejak 2008. Aksi jual besar-besaran ini juga menyebabkan Indonesia kehilangan gelarnya sebagai pasar saham terbesar di Asia Tenggara kepada Singapura setelah lima tahun berkuasa," tulis outlet media itu.
Selain faktor ekonomi makro, para investor kini tengah mencermati kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia serta penggeledahan kantor Badan Gizi Nasional terkait program makan bergizi gratis.