Melompati Dinding Angka demi Dunia Kreatif Digital

Melompati Dinding Angka demi Dunia Kreatif Digital

Di salah satu sudut ruangan Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Bogor, Jawa Barat, Ratih Hapsari (23) duduk dengan tatapan fokus.

Bersama belasan peserta lainnya, lulusan S1 jurusan Akuntansi ini menyerap setiap pemaparan dari instruktur dengan seksama.

Hari itu, suasananya sedikit berbeda.

Satu per satu peserta maju, mencoba menunjukkan kemampuan public speaking mereka, sebuah upaya nyata untuk meruntuhkan dinding pembatas rasa tidak percaya diri, baik di hadapan orang banyak maupun di depan bidikan kamera.

Bagi Ratih, ruangan ini adalah gerbang barunya.

Keputusannya untuk menyeberang dari dunia angka dan logika Akuntansi ke dunia kreatif digital didasari oleh satu mimpi besar: ia ingin mengembangkan bisnis di platform TikTok.

Ratih bercerita bahwa ia pertama kali mengetahui program pelatihan gratis ini melalui media sosial Instagram.

Rasa penasaran dan kebutuhan akan strategi digital yang matang membuatnya mantap melangkah ke BLK Kota Bogor.

"Sebelumnya juga kan pernah kayak buka bisnis gitu di TikTok. Cuma belum laku, karena mungkin enggak tahu strateginya dan harus mulainya tuh masih bingung gimana," ujar Ratih, peserta pelatihan BLK Kota Bogor.

Di zaman di mana semua tutorial bisa diakses lewat layar ponsel, Ratih justru sengaja memilih jalur pembelajaran tatap muka (offline).

Baginya, atmosfer sosial dan ikatan antarpeserta memberikan nilai tambah yang tidak bisa digantikan oleh video streaming.

Melalui interaksi langsung, ia tidak hanya belajar teknis produksi video, tetapi juga mengasah keterampilan interpersonal yang krusial bagi seorang kreator.

"Jadi menurut aku dengan latihan offline, selain belajar content creator, kan kita juga kayak belajar public speaking gitu, storytelling itu, jadi lebih banyak insight aja yang didapat kalau offline tuh. Berinteraksi juga kan, bersosialisasi," tutur Ratih, peserta pelatihan BLK Kota Bogor.

Perjalanan karier Ratih memang sempat dinamis.

Sebelum menyandang gelar sarjana, ia pernah bekerja di bagian marketing.

Namun, ia memilih mengundurkan diri demi fokus mengurus administrasi ijazahnya.

Pasca-kelulusan, status menganggur sejak November 2025 tidak membuatnya patah arang.

Ratih memilih aktif meng-upgrade diri, mulai dari membaca buku hingga berburu event pengembangan diri, termasuk yang diselenggarakan di Jakarta.

Di sisi lain, ia juga tetap gigih berburu pekerjaan tetap dengan mengirimkan satu hingga dua lamaran setiap harinya.

Bergelut dengan Overthinking dan Esok Hari

Kini, setelah bergabung dengan BLK Kota Bogor, keseharian Ratih di rumah berubah total.

Ilmu yang didapat dari kelas langsung ia praktikkan untuk menyusun konsep dan mengedit video.

Namun tantangan baru sebagai kreator pemula mulai muncul: dihantui rasa bingung tentang ide konten untuk keesokan harinya.

"Jadi di rumah sekarang tuh kayak tiap hari mikirin konten apa ya, 'konten apa ya buat besok'. Terus, 'eh udah ngedit belum ya', kayak gitu," ujar Ratih, peserta pelatihan BLK Kota Bogor.

Beruntung, materi yang disampaikan di BLK Kota Bogor dikemas dengan gaya yang sangat relevan bagi generasinya.

Metode komunikasi yang santai membuat materi yang rumit menjadi jauh lebih mudah diserap.

"Menurut aku mudah dimengerti sih, karena bahasa-bahasa Gen Z kali ya, emang kakaknya juga sangat bisa dimengerti gitu, paham," ucap Ratih, peserta pelatihan BLK Kota Bogor.

Meski demikian, Ratih tidak menampik bahwa rasa cemas (overthinking) kerap melanda setiap kali tombol upload akan ditekan.

Sebagai pemula, keraguan akan kualitas karya sendiri adalah makanan sehari-hari.

"Kesulitannya mungkin karena masih pemula ya, jadi kayak masih kalau mau upload kadang masih overthinking gitu, enggak pede. Kayak enggak pede kayak, 'Kontennya benar enggak ya kayak gini?' atau enggak 'kayak ngebosenin gitu enggak ya? Boring' gitu," sambung Ratih, peserta pelatihan BLK Kota Bogor.

Namun BLK bukan sekadar tempat belajar teknis, melainkan juga wadah mental.

Dari sang instruktur, Ratih mendapatkan formula sederhana namun ampuh untuk mengatasi kecemasan tersebut, yaitu perbanyak jam terbang dan konsistensi latihan pada titik kelemahan.

"Misalnya kita overthinking saat public speaking ya. Kata eh kata yang pernah di materi juga, kayak banyakin jam terbang, kayak public speaking. Atau misalnya kita editing-nya masih kurang, banyakin sering-sering ngedit. Sering-sering aja latihan kayak gitu di kelemahan yang kita kurang gitu," tutur Ratih, peserta pelatihan BLK Kota Bogor.

Ke depan, Ratih memasang target yang realistis.

Ia berencana menjadikan profesi kreator konten sebagai pekerjaan sampingan, sementara fokus utamanya tetap mencari pekerjaan yang sejalan dengan jurusan kuliahnya di bidang Akuntansi.

Baginya, menjadi kreator penuh waktu membutuhkan kematangan dan jam terbang yang lebih tinggi.

"Mungkin nanti kalau udah pro gitu, kita bisa beralih seiring berjalannya waktu. Dua tahun kali ya," ujar Ratih, peserta pelatihan BLK Kota Bogor.

Kesempatan Emas dari Pemkot Bogor

Program yang diikuti oleh Ratih ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui UPTD BLK Kota Bogor untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal, bahkan bagi mereka yang berminat untuk berkarier di luar negeri.

Kepala UPTD BLK Kota Bogor, Eka Permana, menjelaskan bahwa seluruh warga Kota Bogor yang berada di usia produktif (17 hingga 35 tahun) memiliki kesempatan yang sama untuk mendaftar.

Proses pendaftarannya pun sangat mudah dan digitalized.

Warga cukup memantau akun Instagram resmi @blk.kota.bogor dan mendaftarkan diri melalui tautan yang tertera di sana, lalu menghubungi nomor admin yang tersedia pada selebaran informasi tiap kelas.

Tak hanya mendapatkan ilmu dan sertifikasi gratis, Pemkot Bogor juga memberikan apresiasi berupa uang pengganti transportasi sebesar Rp 30.000 per hari yang akan dibayarkan secara kumulatif di akhir masa pelatihan.

Durasi pelatihannya sendiri bervariasi tergantung pada bidang yang diminati. Untuk kelas Housekeeping, Tata Boga, dan Make Up Artist (MUA), pelatihan berlangsung selama 23 hari kerja.

Sementara itu, untuk kelas Content Creator seperti yang diikuti oleh Ratih, peserta akan mendapatkan pembekalan intensif selama 33 hari kerja.

"Jadi pengganti transpornya kita Rp 30.000 tapi dibayarkan nanti di akhir. 23 hari belajar dikali Rp 30.000. Kalau yang content creator 33 hari," ujar Eka Permana, Kepala UPTD BLK Kota Bogor.

Artikel terkait

Rekomendasi