Mendag Budi Santoso Kejar Kesepakatan Dagang Baru dengan Amerika Serikat

Mendag Budi Santoso Kejar Kesepakatan Dagang Baru dengan Amerika Serikat

Pemerintah Indonesia tengah mengupayakan kepastian kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat setelah kebijakan sebelumnya dibatalkan oleh Mahkamah Agung negara tersebut. Hubungan dagang kedua negara saat ini berjalan dengan penerapan tarif sementara sebesar 10 persen oleh pemerintah Amerika Serikat selama 150 hari, dilansir dari Detik Finance.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan situasi terkini mengenai investigasi perdagangan yang sedang berjalan di Balai Kartini, Jakarta Selatan, pada Senin (25/5/2026).

"Nah pertanyaannya sekarang kalau setelah 150 hari bagaimana, kan gitu. Nah makanya sekarang Amerika itu sedang melakukan investigasi Section 301, itu berdasarkan Undang-Undang Perdagangan Amerika tahun 1974. Nah yang dikenakan atau yang kena investigasi itu memang beberapa negara termasuk Indonesia, terutama negara-negara yang surplus ya dengan Amerika," ujar Budi.

Pemeriksaan tersebut berfokus pada dua persoalan utama, yaitu isu ketenagakerjaan atau forced labor dan kapasitas produksi manufaktur yang berlebihan atau excess capacity manufacture. Budi Santoso menegaskan bahwa kedua poin pemeriksaan tersebut tidak menghadapi kendala sehingga pihak Indonesia kini tinggal menanti keputusan resmi dari pihak Amerika Serikat.

"Harapan kami ketika dengan ART itu akan diperlakukan berbeda, artinya diperlakukan lebih baik ya, karena kan dia ingin menerapkan aturan baru nih, karena kan tadi sudah dikalahkan oleh Mahkamah Agung kan, berarti harus menerapkan. Nah, penerapan yang baru ini kita ingin mendapatkan yang lebih baik," jelas Budi.

Negosiasi kemitraan ekonomi ini sebenarnya telah dirintis sejak 30 tahun silam melalui Trade and Investment Framework Agreement (TIFA), namun kesepakatan tersebut belum juga berhasil dicapai hingga saat ini. Di sisi lain, potensi pasar serta volume ekspor Indonesia yang besar dinilai telah dipahami oleh pihak Amerika Serikat.

Nilai pengiriman komoditas dari Indonesia ke Amerika Serikat tercatat menyentuh angka US$ 30,9 miliar. Jumlah tersebut mencakup sekitar 11 persen dari total pangsa ekspor keseluruhan Indonesia sepanjang tahun 2025.

"Jadi dengan ART itu sebenarnya buat kita kesempatan yang bagus untuk bisa masuk pasar ke Amerika, terutama produk-produk manufaktur seperti alas kaki, pakaian jadi, produk-produk elektronik. Ya, jadi itu yang kita harapkan," ujar Budi.

Artikel terkait

Rekomendasi