Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan penjelasan mengenai penurunan surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 yang menyentuh angka terendah dalam enam tahun terakhir di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Pelemahan surplus neraca perdagangan ini dilansir dari Suara dipicu oleh lonjakan impor bahan bakar minyak (BBM) yang masuk ke Indonesia, meskipun secara kumulatif periode Januari hingga April 2026 angka surplus tetap tumbuh sebesar 5,48 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa catatan surplus Indonesia sebenarnya masih terus berlanjut hingga rentetan bulan ke-72 walaupun performanya melandai pada April 2026.
"Ini kita berlanjut terus untuk 72 berturut-turut, walaupun agak turun sedikit di bulan April ya, karena pasti karena impor BBM-nya meningkat," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Purbaya Yudhi Sadewa menambahkan informasi mengenai akumulasi pertumbuhan nilai surplus sepanjang tahun berjalan yang masih menunjukkan grafik positif secara tahunan.
"Secara year to date Januari sampai April, itu naik 5,48 persen dibanding tahun lalu," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Pihak Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan bahwa nominal surplus neraca perdagangan Indonesia berada di angka 89,1 juta Dolar AS per April 2026, merosot tajam jika dibandingkan capaian Maret 2026 yang menyentuh 3,32 miliar Dolar AS.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini memaparkan posisi angka surplus bulanan terkini dalam visualisasi data resmi pemerintah pada Selasa (2/6/2026).
"Jadi surplus April 2026 ini merupakan surplus terkecil sejak Mei 2020 atau selama surplus 72 bulan berturut-turut," kata Pudji Ismartini, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS.
BPS menjabarkan total nilai impor Indonesia April 2026 melonjak ke angka 25,21 miliar Dolar AS atau melesat 22,49 persen secara tahunan, dengan andil impor migas mencapai 4,60 miliar Dolar AS akibat kenaikan pasokan minyak mentah dari Nigeria, Brasil, dan Kazakhstan.
Pudji Ismartini menerangkan faktor utama di balik tingginya grafik pembelian komoditas minyak dari luar negeri tersebut.
"Kenaikan impor migas 82,52 persen ini disebabkan oleh peningkatan nilai impor minyak mentah yaitu 67,49 persen," kata Pudji Ismartini, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS.
Pudji Ismartini juga menyebutkan bahwa sektor non-migas ikut naik 20,62 miliar Dolar AS atau tumbuh 14,11 persen secara tahunan, yang disokong oleh pasokan hasil minyak dari Malaysia, Singapura, dan Mesir.
"Peningkatan nilai impor secara tahunan ini didorong oleh peningkatan impor non-migas dengan andil peningkatan sebesar 12,39 persen," kata Pudji Ismartini, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS.
Secara kumulatif sepanjang Januari hingga April 2026, total nilai impor Indonesia menyentuh 86,51 miliar USD yang terdiri atas impor migas senilai 12,93 milar USD serta impor non-migas sebesar 73,58 miliar USD.