Merawat Masa Depan Pangan di Ladang dan Kandang Jawa Timur

Merawat Masa Depan Pangan di Ladang dan Kandang Jawa Timur

Di kaki Gunung Penanggungan, Mojokerto, seorang petani bernama Slamet sudah memilih jalan yang berbeda sejak 2007. Saat petani lain berlomba memakai pupuk kimia demi hasil panen cepat, ia memilih bertani organik, jalan yang lebih lambat, lebih sulit, tapi menurutnya, lebih jujur.

"Pertanian konvensional itu sudah 56 tahun sedikit mendegradasi mikroba tanah. Sistem organik memperkaya kembali biota tanah, sehingga cacing-cacing tetap tumbuh dengan bagus. Mereka itu relawan yang bekerja 24 jam tanpa harus digaji," ujar Slamet, Inisiator Komunitas Organik Brenjonk.

Ratusan kilometer dari Trawas, di Kabupaten Lamongan, peternak muda bernama Tomi Distianto memimpin koperasi peternakan yang tidak sekadar beternak sapi. Ia mendirikan bank yang bukan tempat menyetorkan uang, melainkan Bank Limbah Ternak Koperasi Sumbersari (LITERASI), yakni tempat warga menabung kotoran ternak dan menukarnya dengan manfaat ekonomi nyata.

Sementara di Nganjuk, Kepala Desa Mojorembun Bambang Soeparno sekaligus pembina Gapoktan Karya Abadi sudah puluhan tahun menjaga benih bawang merah varietas Tajuk agar bisa tumbuh dari Sabang sampai Merauke. Di tangannya dan tangan ribuan petani anggotanya, Nganjuk memasok hampir separuh kebutuhan benih bawang merah nasional.

Tiga cerita dari tiga sudut Jawa Timur ini tidak hanya berbicara soal pertanian. Mereka merupakan bukti dari apa yang sedang dibangun Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID) melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) 2026 yang menekankan bahwa menjaga stabilitas harga pangan dimulai dari ladang, kendang hingga sawah, jauh sebelum angkanya muncul di laporan inflasi nasional.

Sebelumnya pada 13 Mei 2026, Bank Indonesia telah resmi meluncurkan GPIPS Wilayah Jawa di Gudang Bulog, Sidoarjo. Program ini menjadi penyempurnaan dari program sebelumnya bernama Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

"Pengendalian inflasi pangan tidak hanya difokuskan pada stabilisasi harga jangka pendek, tetapi juga pada penguatan produksi, pascapanen, dan distribusi pangan guna mendukung ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan," ujar Aida S. Budiman, Deputi Gubernur Bank Indonesia.

GPIPS berjalan di atas tujuh program unggulan, yakni peningkatan produktivitas melalui optimalisasi Good Agricultural Practices (GAP), penguatan hilirisasi dan kelembagaan petani sebagai offtaker, optimalisasi Kerja Sama Antar Daerah (KAD), fasilitasi distribusi pangan, operasi pasar, penguatan neraca pangan, hingga komunikasi pengendalian ekspektasi inflasi. Tiga komoditas menjadi prioritas di seluruh wilayah yakni beras, cabai, dan bawang merah.

Gapoktan Karya Abadi di Nganjuk, Koperasi Literasi Sumbersari di Lamongan, dan Komunitas Organik Brenjonk di Mojokerto, merupakan tiga dari sekian banyak klaster yang dibina BI sebagai ujung tombak program ini.

Kabupaten Nganjuk bukan nama yang sering muncul di berita ekonomi. Tapi diam-diam, daerah ini menentukan apakah harga bawang merah di seluruh Indonesia akan stabil atau bergolak. Bambang Soeparno memaparkan hampir 20 ribu hektare lahan bawang merah digarap per tahun di Kabupaten Nganjuk, dengan rata-rata produksi 15 ton per hektare. Lebih dari separuhnya, hampir 50 persen, bukan untuk dikonsumsi, melainkan untuk dijadikan benih yang kemudian ditanam di seluruh penjuru Indonesia.

"Nganjuk terdepan untuk perusahaan benih. Kami punya varietas Tajuk, tanaman asli Nganjuk yang sudah terbukti beradaptasi sangat bagus di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke," ujar Bambang Soeparno, Ketua Asosiasi Penangkar Benih Bawang Merah Kabupaten Nganjuk.

Gapoktan Karya Abadi yang dipimpinnya telah menjadi klaster binaan Bank Indonesia sejak 2015. Selama satu dekade lebih itu, pendampingan BI menyentuh berbagai aspek mulai dari teknologi irigasi hingga pengembangan produk olahan. Salah satu terobosan yang paling dirasakan petani adalah penggantian pompa air diesel ke pompa submersible (sibel) bertenaga listrik yang difasilitasi Bank Indonesia. Dampaknya konkret, satu unit sibel mampu mengairi 5 hektare lahan, jauh melampaui pompa diesel lama yang hanya menjangkau setengah hektare.

"Bayangkan dulu satu pompa diesel hanya bisa melayani setengah hektare. Sekarang satu sibel bisa 5 hektare. Ini perkembangan yang luar biasa secara teknologi," ujar Bambang Soeparno, Ketua Asosiasi Penangkar Benih Bawang Merah Kabupaten Nganjuk.

Namun yang tak kalah strategis adalah pengembangan produk olahan bawang merah melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) yang dipimpin Artika Widyastuti. Berawal dari pelatihan hilirisasi dan diversifikasi produk pangan yang diselenggarakan BI pada 2023, kini KWT Desa Mojorembun memproduksi bawang merah krispi, bawang goreng teri, sambal bawang, hingga pasta bawang merah.

"Justru kami bersemangat menghidupkan UMKM ini karena mendapat pelatihan dari BI. Waktu itu ada 30 orang KWT yang ikut pelatihan," ujar Artika Widyastuti, Ketua Kelompok Wanita Tani Desa Mojorembun.

Pasta bawang merah yang merupakan produk paling inovatif dari KWT ini kini dijual di marketplace dan sudah menjangkau pembeli di seluruh Indonesia. Harganya untuk ukuran 175 gram dijual seharga Rp 20 ribu. Produk ini juga menjadi salah satu item yang digunakan dalam acara-acara Bank Indonesia, termasuk sebagai bahan demo memasak di berbagai kegiatan. Di balik cerita sukses itu, Bambang menyimpan kekhawatiran yang realistis. Bawang merah adalah komoditas yang harganya sangat fluktuatif, harga bisa jatuh jauh di bawah biaya produksi saat panen raya, lalu melonjak tajam saat pasokan menipis.

"Ketika harga produksi kami turun di bawah standar, kami tidak jadi rugi karena ada produk olahan bawang yang selamatkan pendapatan petani," ujar Artika Widyastuti, Ketua Kelompok Wanita Tani Desa Mojorembun.

Lamongan: Kandang yang Melahirkan Koperasi

Di Desa Sumbersari, Kecamatan Sambeng, Lamongan, Tomi Distianto membangun sesuatu yang lebih dari sekadar kandang sapi. Ia membangun ekosistem. Koperasi Tani Ternak Literasi Sumbersari yang ia pimpin mengelola 235 ekor ternak. Jumlah tersebut terdiri dari 70 ekor sapi potong di kandang komunal, sisanya tersebar di rumah-rumah anggota, ditambah 70 ekor kambing dan domba. Jenis sapi yang diternakkan di antaranya adalah limosin, simental, dan sapi lokal. Tapi yang membuat koperasi ini berbeda bukan jumlah ternaknya. Melainkan Bank LITERASI, singkatan dari Bank Limbah Ternak Koperasi Sumbersari. Inovasi ini mengubah kotoran sapi yang selama ini dianggap masalah lingkungan menjadi aset ekonomi warga.

"Masyarakat di sini bisa tergabung menjadi nasabah, sehingga mereka bisa menyetorkan kotoran ternaknya. Kotoran ini sebelumnya banyak yang terbuang dan menjadi sumber pencemaran lingkungan. Melalui Bank LITERASI, ini bisa menjadi solusi," ujar Tomi Distianto, Ketua Koperasi Tani Ternak Literasi Sumbersari.

Dari kotoran yang terkumpul itulah lahir pupuk organik bermerek LITERASI yang kini sudah dipasarkan di lebih dari 7 kabupaten di Jawa Timur. Ekosistem bisnis koperasi terus berkembang seperti warung sate yang setiap hari menyembelih 2-3 ekor domba, layanan katering dan aqiqah, hingga Edufarm yang menjadi pusat pelatihan dan magang bagi siswa SMK, mahasiswa, hingga peneliti dari berbagai universitas. Omzet koperasi kini melampaui Rp 50 juta per bulan dari berbagai lini usaha: penjualan sapi, domba, warung sate, dan pupuk organik. Angka yang jauh melampaui masa ketika koperasi hanya mengandalkan jual sapi saja. Sistem bagi hasil yang diterapkan koperasi juga dirancang untuk berpihak pada peternak kecil. Ketika sapi dijual, 60 persen hasil penjualan menjadi hak anggota, sementara 40 persen kembali ke koperasi yang menanggung seluruh biaya operasional seperti listrik, air, obat-obatan, dan biaya suntik kawin.

"Tujuan kami adalah pemberdayaan masyarakat. Bagi peternak yang modalnya minim tapi mau beternak, koperasi membelikan sapi atau domba dengan sistem bagi hasil ini," ujar Tomi Distianto, Ketua Koperasi Tani Ternak Literasi Sumbersari.

Bank Indonesia mulai membina koperasi ini secara intensif sejak 2025 melalui program Sakajatin, Sarana Akselerasi Agribusiness Cluster, setelah sebelumnya sempat berkenalan pada 2023. Hasilnya koperasi ini meraih predikat kluster sapi potong terbaik tingkat Jawa Timur, dan kemudian mewakili BI Jawa Timur di ajang Championship Cluster Pangan tingkat nasional dan memenangkannya pada 2025. Apresiasi itu berwujud nyata. Koperasi ini mendapatkan bantuan sebanyak 3 unit gazebo yang menopang warung sate koperasi, dan 1 unit kendaraan operasional dari BI. BI juga membekali koperasi dengan pelatihan manajemen kelompok, administrasi keuangan, dan pengembangan organisasi. Satu harapan yang Tomi sampaikan dengan lugas yakni akses permodalan dengan bunga ringan. Kebutuhan sapi terus berputar sepanjang tahun seperti momen Nataru, Idul Fitri, dan Idul Adha. Untuk kebutuhan warung sate saja, Tomi menyebut koperasi membutuhkan sekitar 100 ekor domba per bulan. Modal harus terus bergerak.

"Alhamdulillah, omzet koperasi meningkat luar biasa dari sebelumnya yang hanya mengandalkan jual sapi. Dengan adanya koperasi binaan BI ini, produktivitas usaha kami meningkat," ujar Tomi Distianto, Ketua Koperasi Tani Ternak Literasi Sumbersari.

"Kami tidak terlalu banyak berharap bantuan. Tapi kalau ada pinjaman dengan bunga ringan, itu sangat kami butuhkan. Karena kebutuhan ternak itu terus menerus," ujar Tomi Distianto, Ketua Koperasi Tani Ternak Literasi Sumbersari.

"Ini bukan sekadar tambahan penghasilan. Di sini, peternakan bisa menjadi sumber penghasilan utama," ujar Tomi Distianto, Ketua Koperasi Tani Ternak Literasi Sumbersari.

Mojokerto: Ladang Organik di Kaki Gunung

Komunitas Organik Brenjonk bukan koperasi biasa. Ia lahir dari sebuah keyakinan yang sederhana bahwa pertanian seharusnya menyehatkan tanah. Berdiri sejak 2007 di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Mojokerto, Brenjonk kini beranggotakan 109 orang yang 80 persen di antaranya ibu rumah tangga, sisanya pemuda, pensiunan, dan mantan petani konvensional yang memilih beralih jalur. Mereka mengelola 146 hektare lahan organik yang panen padi tiga kali, kini cenderung dua kali seiring tantangan ketersediaan air. Slamet menjelaskan produksi Brenjonk mencakup sekitar 45 jenis produk seperti beras merah, hitam, putih, coklat, dan beras mix; sayur-sayuran seperti caisim, kailan, bayam merah, lettuce, tomat cherry; hingga buah pisang, labu madu, dan aneka rimpang. Setiap Senin, produk dikirim ke Surabaya. Sementara setiap Jumat, ke gudang SuperIndo di Mojokerto. Dalam sebulan, rata-rata 2-3 ton produk terkirim bisa mencapai 5-10 ton saat panen raya padi. Hal yang membuat Brenjonk menonjol bukan hanya keragaman produknya. Melainkan sistem yang dibangun untuk memastikan petani kecil bisa mengakses pasar premium. Kunci aksesnya adalah sertifikasi organik berstandar SNI yang diaudit oleh lembaga sertifikasi organik Indonesia. Dengan sertifikasi ini, produk Brenjonk berhak masuk rak organik di ritel modern. Slamet menyebutkan saat ini beras putih organik dijual Rp 15.000 per kilogram, beras merah Rp 25.000, dan beras hitam Rp 30.000, jauh di atas harga beras konvensional yang berkisar Rp 9.000-10.000.

"Selama ini petani kecil akses untuk pasar premium itu sangat terbatas. Alhamdulillah kita bisa survive 18 tahun ini," ujar Slamet, Inisiator Komunitas Organik Brenjonk.

"Sebenarnya harga beras organik itu harga yang wajar. Dulu sebelum ada regulasi baru, di harga Rp 15.000 itu baru untung Rp 1.000. Makanya kami sepakati harga beli gabah dari petani Rp 6.500 sama persis dengan HPP yang baru saja ditetapkan pemerintah," ujar Slamet, Inisiator Komunitas Organik Brenjonk.

Bank Indonesia mulai mendampingi Brenjonk sejak 2018 dan selama lima tahun lebih itulah ekosistem Brenjonk bertransformasi. Di luar penguatan kapasitas dan kelembagaan, BI juga membantu infrastruktur fisik dari penataan jalan batu menuju sawah yang dulunya 'hanya nyaman untuk sapi', hingga pemberian satu unit drone pertanian untuk aplikasi pemupukan cair. Taman Bunga Refugia seluas setengah hektare yang ditanami bunga kenikir menjadi pintu masuk ide besar berikutnya. Saat bunga-bunga itu menarik pengunjung, Slamet menangkap peluang, yakni pembuatan warung. Dari satu warung, kini ada 13 kuliner yang dikelola anggota komunitas. Setiap bulan, ia menyebutkan ada sekitar 8.500 orang datang. Uang yang berputar di sana mencapai Rp 300 jutaan per bulan dan ada 50 anak muda yang bekerja. Sudah lebih dari 11 ribu orang datang ke Brenjonk untuk belajar, mulai dari cara membuat agen hayati, perbanyakan mikroba, pembibitan, hingga pemasaran organik.

"Yang kami lakukan ini harapannya menjadi satu model hulu-hilir yang bisa dikerjakan kelompok petani kecil dan bisa direplikasi di desa-desa lain," ujar Slamet, Inisiator Komunitas Organik Brenjonk.

"Daripada jauh-jauh ke Korea, ke sini saja. Belajar organik, makan organik, dan lihat bagaimana pertanian bisa jadi sumber kehidupan yang bermartabat," ujar Slamet, Inisiator Komunitas Organik Brenjonk.

Sinergi Menuju Kedaulatan Pangan berkelanjutan

Tiga kisah dari tiga sudut Jawa Timur ini bukan kebetulan hadir bersamaan. Mereka merupakan salah satu contoh bagian dari strategi besar GPIPS 2026 yang menempatkan penguatan klaster pangan sebagai salah satu program unggulan untuk memastikan bahwa petani dan peternak tidak hanya menjadi objek program, melainkan aktor utama ketahanan pangan nasional. Adapun Jawa Timur dipilih sebagai lokasi grand launching GPIPS bukan hanya karena angka-angkanya yang impresif. Meski data BPS 2025 menunjukkan Jatim sebagai penghasil padi terbesar nasional (17,34% atau 10,57 juta ton), produsen nomor satu cabai rawit (37,01%), dan pemasok bawang merah terbesar kedua (22,91%). Lebih dari itu, Jatim dipilih sebagai representasi semangat sebagai Kota Pahlawan, Surabaya dan seluruh Jawa Timur menjadi simbol bahwa menjaga ketahanan pangan adalah bagian dari perjuangan menjaga kedaulatan bangsa.

"Kita itu punya sejarah yang sangat patriotik di Jawa Timur, and ini ingin kita pinjam semangat patriotiknya bapak ibu sekalian. Bapak ibu mungkin ingat 10 November 1945 itu adalah perjuangannya Arek-Arek Suroboyo. Memastikan kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 terjaga," ujar Aida S. Budiman, Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan komitmen Jatim dalam memperkuat perannya sebagai lumbung pangan nasional. Ia menyebut pengembangan Etalase Pengendalian Inflasi Kabupaten/Kota (EPIK) yang bersifat mobile sebagai salah satu terobosan untuk memperkuat kerja sama dan mitigasi antar daerah. Khofifah juga menggarisbawahi pentingnya konektivitas antar pasar. Meski produksi cabai rawit Jatim tertinggi di Indonesia, harga cabai di satu pasar bisa berbeda jauh dengan pasar lainnya. Ia pun mendorong efisiensi produksi padi melalui penggunaan alat mesin pertanian seperti combine harvester untuk menekan losses pascapanen.

"Pangan tidak hanya soal beras dan karbohidrat, tetapi juga protein. Karena itu penguatan pangan berbasis protein sangat penting, termasuk melalui pengembangan sapi potong, sapi perah, kambing, dan domba," ujar Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur.

"Kami optimistis Jawa Timur tidak hanya menuju ketahanan pangan, tetapi kedaulatan pangan berkelanjutan," ujar Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur.

Artikel terkait

Rekomendasi