Aksi korporasi PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) melalui Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD I) atau rights issue kini tengah menjadi pusat perhatian pasar modal. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Money, perseroan berencana menawarkan saham baru dalam jumlah yang signifikan untuk memperkokoh struktur keuangan.
Perseroan melepas sebanyak-banyaknya 2,26 miliar saham baru atau setara dengan 16,67 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah aksi rights issue ini selesai dilakukan. Saham baru tersebut ditetapkan dengan nilai nominal Rp 25 per saham, sementara harga pelaksanaannya berada di level Rp 50 per saham.
Melalui skema permodalan tersebut, emiten berkode saham PADI ini memiliki peluang untuk menghimpun dana segar hingga mencapai Rp 113,07 miliar. Seluruh dana yang terkumpul, setelah dikurangi biaya emisi, diproyeksikan sepenuhnya untuk mendukung kebutuhan modal kerja perusahaan.
Pihak manajemen menjelaskan dalam prospektus bahwa dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat modal kerja bersih yang disesuaikan. Hal ini mencakup penempatan kas, deposito berjangka, portofolio efek, hingga biaya operasional kegiatan usaha yang sedang berjalan.
Bagi para investor yang berminat, perseroan telah menetapkan jadwal penting terkait hak memesan efek ini. Jadwal cum right di pasar reguler serta pasar negosiasi jatuh pada 20 Mei 2026, sedangkan untuk pasar tunai dijadwalkan pada 22 Mei 2026.
Pergerakan Harga Saham dan Kinerja Keuangan
Kinerja saham PADI sendiri sempat menunjukkan volatilitas di tengah tekanan aksi jual investor asing dan fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada pengujung April 2026, saham ini berada di posisi Rp 108 per saham, namun sempat menguat hingga menyentuh Rp 122 pada Kamis (7/5/2026).
Meskipun demikian, koreksi terjadi pada perdagangan Jumat (8/5/2026) yang membuat harga saham ditutup pada level Rp 111 seiring dengan pelemahan tajam yang dialami IHSG. Kondisi pasar ini tidak menyurutkan perhatian terhadap fundamental perusahaan yang menunjukkan perbaikan signifikan.
Pada tahun buku 2025, PADI berhasil mencatatkan lonjakan pendapatan yang sangat tajam mencapai Rp 61,7 miliar. Angka ini meningkat sekitar 3.785,5 persen jika dibandingkan dengan perolehan tahun 2024 yang hanya sebesar Rp 1,6 miliar.
Kenaikan drastis tersebut didorong oleh pembalikan hasil perdagangan efek dari kerugian Rp 18,8 miliar pada 2024 menjadi keuntungan Rp 27,75 miliar pada 2025. Selain itu, pendapatan dari komisi transaksi juga mengalami kenaikan dari Rp 3,05 miliar menjadi Rp 10,8 miliar.
Strategi Bisnis dan Kepemilikan Saham
Perbaikan kinerja keuangan ini secara otomatis membawa perseroan keluar dari zona merah. PADI mencatat laba neto sebesar Rp 1,8 miliar pada 2025, berbanding terbalik dengan kondisi rugi bersih senilai Rp 13,8 miliar pada tahun sebelumnya.
Pencapaian ini kemudian memicu berbagai spekulasi di kalangan pelaku pasar mengenai kemungkinan masuknya investor strategis baru. Terlebih saat ini PADI tercatat tidak memiliki Pengendali Saham Perusahaan (PSP), dengan porsi kepemilikan saham publik yang mendominasi hingga sekitar 99 persen.
Manajemen PADI menegaskan komitmennya untuk tetap fokus pada pengembangan lini bisnis utama di masa mendatang. Hal ini disampaikan melalui laporan tahunan perusahaan.
"Ke depan, PADI menyatakan tetap fokus mengembangkan bisnis utama sebagai perantara perdagangan efek dan penjamin emisi efek," tulis manajemen PADI dalam annual report.