Mitigasi Banjir Sungai Cisadane Warga Panaragan Andalkan EWS Manual

Mitigasi Banjir Sungai Cisadane Warga Panaragan Andalkan EWS Manual

Sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) banjir bertenaga manual menjadi sandaran utama warga di pinggir aliran Sungai Cisadane. Alat mitigasi bencana ini berdiri di wilayah RW 07 Panaragan, Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat.

Seperti dikutip dari Megapolitan, fasilitas berbentuk tiang merah dengan garis hijau tersebut berfungsi sebagai petunjuk krusial. Keberadaannya membantu masyarakat sekitar untuk meningkatkan kesiapsiagaan sewaktu debit air sungai mulai meluap.

Pada tiang pemantau tersebut, terdapat indikator khusus penanda tinggi muka air (TMA). Papan penanda berwarna kuning itu memuat angka ukuran mulai dari 100 sentimeter hingga mencapai 250 sentimeter.

Pengoperasian alat pelindung pemukiman ini masih dilakukan secara manual oleh warga setempat. Kendati belum otomatis, sistem tersebut tetap menjadi tumpuan utama dalam mendeteksi dan mengantisipasi datangnya luapan air.

Ketua RW 07 Panaragan, Dede Suparman, mengambil peran penting dalam mengawasi pergerakan aliran Sungai Cisadane secara berkala. Ia memantau kondisi sungai dari sebuah bangunan saung yang terletak di tepi aliran air.

Ketika indikator menunjukkan volume air menyentuh angka 120 sentimeter, tindakan cepat segera diambil. Dede Suparman akan langsung mengaktifkan sirine tanda bahaya agar didengar oleh seluruh masyarakat.

"Air ketinggian debit air di sini ada di sini nih 120 cm, jadi kita pencet tombolnya," kata Dede saat ditemui Kompas.com di Panaragan, Kota Bogor, Rabu (20/5/2026).

Fasilitas tombol pengaktifan sirine peringatan dini tersebut ditempatkan di area depan rumah kediaman Ketua RW. Saat perangkat tersebut diuji coba pada Rabu siang, pancaran suaranya terdengar sangat nyaring melalui pengeras suara.

Pekikan suara dari toa pemancar membuat sejumlah warga sempat keluar rumah karena menduga bencana luapan air telah datang. Ketua RW segera memberikan konfirmasi langsung agar masyarakat tidak panik.

"Lagi tes nyobain sirine buat video, enggak banjir, enggak," kata Dede kepada warga setelah menekan tombol.

Masyarakat di lingkungan RW 07 dilaporkan telah memahami arti dari pola bunyi yang dikeluarkan oleh perangkat pemancar tersebut. Isyarat suara itu menjadi penanda sahih bahwa debit air Sungai Cisadane sedang merangkak naik.

"Artinya warga sudah paham bahwa ini air naik ya, air naik dan dia siaga dan dia bersiap-siap gitu ya," ujar dia.

Langkah pengadaan alat deteksi ini memiliki latar belakang sejarah kelam terkait kebencanaan. Ketua Kelurahan Tanggap Bencana (Keltana) Panaragan, Rika Sabar Putri, mengungkapkan kawasan RW 07 pernah diterjang luapan besar.

Ketinggian air yang merendam permukiman saat peristiwa tersebut dilaporkan menyentuh angka puluhan meter. Kondisi geografis wilayah yang berada di area bawah membuat dampak luapan menjadi sangat masif.

"Di sana aja yang 15 meter, ke sini ini RW 07 paling bawah kan. Bisa 20 meteran kali ya," ujar Rika.

Dampak masif dari peristiwa tersebut memicu langkah konkret dari pihak berwenang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor merespons dengan membentuk Keltana pada tahun 2016 di wilayah Pasir Jaya dan Panaragan.

Kedua titik kelurahan tersebut mendapatkan prioritas penanganan khusus dari pihak BPBD. Kebijakan ini diambil lantaran karakteristik kedua wilayah yang dinilai paling rentan dan sering mengalami musibah luapan air.

Pengurus Keltana bersama jajaran warga RW 07 kemudian bergerak membangun perangkat EWS manual lewat skema swadaya. Langkah ini beriringan dengan pelaksanaan program edukasi mengenai kesiapsiagaan bencana kepada publik.

"Nah, makanya sampai saat ini RW 07 ini sudah paham dan mandiri. Punya inisiatif sendiri, mereka kalau ada bunyi tuh langsung evakuasi buru-buru, gitu. Udah biasalah," tutur dia.

Kekuatan pancaran gelombang suara dari sirine darurat ini juga telah diuji secara langsung dari jarak jauh. Rika melakukan pengetesan dari area Kantor Kelurahan Panaragan yang berjarak kurang lebih 600 meter.

Hasil pengujian menunjukkan sinyal suara peringatan masih mampu tertangkap telinga dengan sangat jelas. Kondisi lingkungan yang senyap membuat gaung sirine terdengar semakin tajam saat malam hari.

"Waktu itu saya nyoba sih ini dinyalain. Teman saya relawan, suruh nyalain, saya diam di kelurahan. Kalau malam bener kedengeran. Sekitar 600 meter," kata dia.

Selain fokus pada pengembangan infrastruktur deteksi dini, Keltana konsisten menanamkan pemahaman kepada masyarakat. Warga diimbau untuk tidak mengabaikan ancaman luapan air dan menganggapnya sebagai rutinitas biasa.

Proses penumbuhan kesadaran menghadapi potensi kebencanaan diawali dari tindakan preventif berskala kecil. Salah satu fokus utamanya adalah memutus kebiasaan membuang material sampah ke dalam aliran sungai.

"Nah, saya mengajarkan warga untuk tidak membuang sampah ke kali, menghindari banjir. Alhamdulillah sih warga RW 7 sudah mandiri, sudah mandiri dan sudah terbiasa gitu," ujarnya.

Langkah Darurat Saat Terjadi Kerusakan Alat

Sistem EWS manual yang menjadi tumpuan warga ini diakui tidak selalu berada dalam kondisi operasional yang prima. Ada kalanya sistem mekanis tersebut mengalami kendala teknis atau kerusakan.

Saat kendala teknis terjadi di tengah situasi genting, warga menerapkan prosedur darurat guna menyebarkan tanda bahaya. Upaya komunikasi massa beralih menggunakan peralatan konvensional.

Ketua RW setempat akan memanfaatkan pengeras suara jinjing atau melakukan pemukulan benda keras seperti tiang listrik. Pola komunikasi ini difokuskan pada titik pemukiman yang memiliki tingkat kerawanan tertinggi.

"Ya ini memukul tiang listrik, iya, Pak RW paling memukul tiang listrik untuk antisipasi karena kan emang paling rawan ini di RT 3 di sini, RT 3 RW 7," ujar Rika.

Urgensi keberadaan alat pelindung ini mendapat penegasan dari pihak birokrasi setempat. Sekretaris Lurah Panaragan, Sopyan Hadi, menilai EWS memiliki fungsi vital dalam menekan potensi munculnya korban jiwa.

"Ini insyaallah untuk mencegah, dan tentunya dengan mencegah berarti kan bisa menyelamatkan nyawa warganya juga ya. Setidaknya kita tahu terlebih dahululah sebelum bencana itu bener-bener terjadi di lingkungan kita," tutur Sopyan.

Keberadaan alat ukur ini dinilai sangat membantu aparatur pemerintahan di tingkat kelurahan untuk memproyeksikan pergerakan air. Data visual dari tiang pemantau mempercepat proses evakuasi warga mandiri.

"Tentunya kalau enggak ada alat ini, ya kita bisa membayangkan aja ya, mungkin kalau misalkan itu warga bisa bencana ya, warga bisa terdampak juga lah lebih besar gitu bencananya," kata dia.

Sistem deteksi dini ini memegang peran kunci dalam menekan kerugian materiil maupun non-materiil di lingkungan padat penduduk. Kehadiran EWS manual dirasakan sangat protektif, terutama bagi kelompok warga lanjut usia.

"Makanya dengan alat ini kan kita meminimalisir, agar dampaknya tidak begitu besar. Di kita kan juga ada lansia. Nah itulah. Alhamdulillah sih dengan ada alat ini membantu banget gitu. Alhamdulillah," sambung Sopyan.

Artikel terkait

Rekomendasi