Aktivitas para petani di Desa Poncosari, Kapanewon Srandakan, Bantul, D.I Yogyakarta, kini menjadi lebih efisien. Seperti dikutip dari Suara, para petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sarikismo merasakan kemudahan transportasi berkat bantuan kendaraan operasional.
Gapoktan Sarikismo merupakan wadah berkumpul bagi 24 kelompok tani aktif di seluruh wilayah desa tersebut. Kehadiran sarana transportasi yang memadai menjadi solusi atas tantangan pengangkutan hasil pertanian yang kerap melonjak saat musim panen tiba.
Sebelumnya, keterbatasan armada membuat proses pengangkutan hasil panen memakan waktu lebih lama karena petani hanya mengandalkan sepeda motor. Perubahan mulai dirasakan setelah pihak desa menerima bantuan mobil pikap melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) BRI pada tahun 2021.
"Mobil pikap itu biasanya digunakan untuk pas panen. Musim panen kami kan butuh untuk mengusung ke Balai Penyuluhan Pertanian. Kemudian kirim ke Bulog, pakainya pikap dari kaluruhan itu," kata petani Desa Poncosari, Mujiman.
"Dulu sebelum ada ya pakai motor, diusung pakai motor. Kalau tidak pakai motor Tossa, bolak-balik itu cuma satu soalnya. Kalau pakai mobil pikap bisa satu kali atau dua kali. Bisa memudahkan," imbuhnya.
Ulu-ulu Kalurahan Poncosari, Rian Wijayanto, yang membidangi sektor pertanian desa membenarkan bahwa keberadaan armada tersebut memangkas biaya operasional petani. Sebelum ada bantuan, warga sering kali harus menyewa kendaraan angkutan umum.
"Sampai saat ini alhamdulillah dengan adanya pikap sangat membantu sekali. Saat petani butuh waktu panen, waktu pengambilan bibit, saat mau tanam, itu betul-betul sangat berguna. Memang sering digunakan," ungkap Rian.
"Sebelumnya mereka kadang sewa mobil, sewa angkutan umum. Mereka yang tidak punya sewa. Semenjak ada ini, alhamdulillah bisa dimanfaatkan," lanjutnya.
Lurah Poncosari, Supriyanto, menjelaskan bahwa kendaraan roda empat tersebut tidak hanya eksklusif untuk keperluan sektor pertanian. Pihak pemerintah desa mengizinkan penggunaan armada untuk berbagai kegiatan operasional warga lainnya.
"Pikap ini untuk operasional, untuk macam-macam. Tidak hanya khusus untuk Gapoktan, tapi juga operasional kegiatan, baik untuk pertanian, pemerintahan, pembedayaan, dan sebagainya itu bisa pakai jika harus," ujar Supriyanto.
"Jadi, manfaatnya cukup banyak, meskipun CSR untuk Gapoktan tapi multifungsi. Sepanjang untuk kepentingan warga masyarakat, bisa pakai itu," lanjut sarjana ekonomi itu.
"Karena di Pocongsari kan mayoritas warganya mata pencaharian petani. Jadi meskipun tidak langsung mengakut, tapi juga memfasilitasi kegiatan warga, baik itu pertanian, peternakan, dan lainnya. Dan itu memang juga sangat bermanfaat sekali," tuturnya menambahkan.
Meskipun masa pakai kendaraan operasional tersebut sudah berjalan selama lima tahun, kondisinya terpantau masih terawat dengan baik. Supriyanto menegaskan komitmen kalurahan dalam menanggung biaya suku cadang hingga perpanjangan pajak kendaraan.
"Iya karena memang kami rawat benar-benar, pokoknya kami syukuri. Kami memanfaatkan itu sebesar-besarnya, sehingga bantuan CSR dari BRI tidak sia-sia. Istilahnya amal jariyah mengalir karena dimanfaatkan untuk kepentingan warga," tutur Supriyanto.