Narendra Modi Minta Warga India Batasi Impor Emas dan Bahan Bakar

Narendra Modi Minta Warga India Batasi Impor Emas dan Bahan Bakar

Perdana Menteri India Narendra Modi mengimbau masyarakat untuk membatasi konsumsi bahan bakar minyak, menunda pembelian emas, serta mengurangi frekuensi perjalanan ke luar negeri pada Minggu, 10 Mei 2026. Langkah ini diambil guna merespons lonjakan harga energi global yang dipicu oleh eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah.

Penghematan cadangan devisa menjadi alasan utama seruan tersebut di tengah tekanan tagihan impor yang membengkak. Berdasarkan laporan CNBC yang dilansir dari Detik Finance pada Senin (11/5/2026), Modi menekankan pentingnya penggunaan transportasi umum dan metode berbagi kendaraan bagi warga di kota Hyderabad.

India memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pasokan energi dari luar negeri, dengan total impor mencapai hampir 85 persen dari seluruh kebutuhan bahan bakar nasional. Sekitar 50 persen impor minyak mentah dan 60 persen gas alam cair melewati Selat Hormuz, yang kini berada dalam wilayah tensi konflik tinggi.

Kondisi ekonomi domestik mulai terdampak oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa proposal balasan dari Iran untuk mengakhiri perang tidak dapat diterima, yang seketika memicu kenaikan harga minyak dunia ke level yang lebih tinggi.

Sektor perdagangan India mengalami guncangan hebat dengan anjloknya saham perusahaan perhiasan hingga 10 persen pada perdagangan Senin. Saham Titan, perusahaan perhiasan milik Grup Tata, merosot hampir 6 persen, sementara maskapai penerbangan IndiGo juga mencatatkan penurunan sebesar 2,8 persen.

Data keuangan menunjukkan India mengalokasikan dana sebesar US$ 174,9 miliar untuk impor minyak mentah dan produk petroleum pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2026. Angka fantastis tersebut mewakili sekitar 22 persen dari total keseluruhan nilai impor negara tersebut.

Selain energi, komoditas emas menjadi beban besar bagi neraca perdagangan karena India merupakan pembeli emas terbesar kedua di dunia setelah China dengan nilai impor mencapai US$ 72 miliar. Sektor pariwisata juga tercatat sangat aktif dengan 32,7 juta warga melakukan perjalanan ke luar negeri sepanjang tahun 2025.

Kenaikan biaya energi ini diprediksi akan memperlebar defisit perdagangan serta defisit neraca transaksi berjalan India secara signifikan. Saat ini, mata uang Rupee terus berada di bawah tekanan besar dan diperdagangkan pada posisi mendekati titik terendah sepanjang masa terhadap dolar AS.

Artikel terkait

Rekomendasi