Perdana Menteri India Narendra Modi menginstruksikan masyarakat untuk melakukan penghematan besar-besaran guna merespons tekanan ekonomi akibat perang Iran yang telah berlangsung selama dua bulan. Seruan tersebut disampaikan Modi dalam sebuah acara publik di Hyderabad pada Minggu (10/5/2026).
Dilansir dari Money, Modi meminta warga bekerja dari rumah, membatasi perjalanan ke luar negeri, hingga mengurangi pembelian emas serta bahan bakar. Langkah ini diambil karena gangguan pasokan energi global mulai membebani devisa negara secara signifikan.
Sektor keuangan India merespons peringatan tersebut dengan kewaspadaan tinggi terkait potensi krisis yang lebih dalam. Bankir senior India, Uday Kotak, menyatakan perlunya kesiapan menghadapi skenario terburuk bagi industri nasional.
"Pandangan saya adalah kita harus bersiap untuk paranoia sebelum kejadian," kata Uday Kotak, bankir senior India.
Kotak menekankan bahwa dampak kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat secara langsung. Ia memperingatkan tekanan besar akan segera datang dalam waktu dekat.
"Kita harus bersiap untuk yang terburuk," lanjut Uday Kotak.
Ketergantungan India terhadap impor energi sangat tinggi, mencapai 90 persen untuk minyak mentah dan 50 persen untuk gas alam. Penutupan Selat Hormuz selama dua bulan terakhir menjadi penyebab utama melonjaknya biaya impor energi hingga miliaran dollar AS.
"Kita belum melihat dampak dalam dua bulan terakhir dari perang Timur Tengah dalam hal transmisi harga energi. Itu akan datang dan akan datang dengan besar dan konsumen sama sekali belum merasakan tekanannya," kata Uday Kotak.
Ekonom dari Indira Gandhi Institute of Development Research, Rajeswari Sengupta, menilai situasi ini berpotensi menjadi krisis berkepanjangan. Ia menyebut India sebagai salah satu negara yang paling rentan terdampak secara ekonomi.
"Apa yang awalnya dianggap sebagai guncangan sementara kini dapat berubah menjadi krisis berkepanjangan. Jika itu terjadi, India bisa menjadi salah satu negara dengan perekonomian yang paling terdampak," kata Rajeswari Sengupta, ekonom Indira Gandhi Institute of Development Research.
Sengupta juga menyoroti kurangnya investasi pada sektor teknologi baru seperti kecerdasan buatan dan semikonduktor di India. Hal tersebut membuat daya tarik investasi jangka panjang di India memudar dibandingkan negara Asia lainnya.
"Karena India belum banyak berbuat di bidang AI, energi terbarukan, atau semikonduktor, tidak banyak industri yang menghasilkan antusiasme atau pengembalian jangka panjang seperti yang dilihat investor di tempat lain di Asia," kata Rajeswari Sengupta.
Data dari Nomura menunjukkan kekhawatiran atas defisit fiskal India yang diprediksi melebar hingga 4,6 persen terhadap PDB pada Maret 2027. Ekonom Aurodeep Nandi dan Sonal Varma mencatat adanya titik kritis pada keuangan pemerintah.
"Komentar Modi menandakan bahwa tekanan pada keuangan fiskal pemerintah mencapai titik kritis, bahwa keinginan untuk depresiasi rupee lebih lanjut semakin berkurang dan bahwa beban penyesuaian mungkin secara bertahap akan dibagi dengan konsumen," tulis Nomura.
Investor global Ruchir Sharma juga mencatatkan penurunan minat investor terhadap pasar India. Ia menyebut tingkat ketidakpedulian pasar saat ini merupakan yang tertinggi dalam tiga dekade terakhir.
"Dalam 30 tahun saya berinvestasi, saya belum pernah melihat ketidakpedulian investor seperti ini terhadap India," kata Ruchir Sharma, investor global.
Terakhir, ekonom Rahul Ahluwalia berpendapat bahwa pemerintah tidak bisa terus menyembunyikan kenaikan harga global dari konsumen. Penyesuaian harga dianggap perlu untuk menghindari dampak yang lebih parah di masa depan.
"Konsumen tidak dapat dan tidak boleh sepenuhnya diisolasi dari guncangan pasokan global, karena itu akan menyebabkan lebih banyak penderitaan di kemudian hari," kata Rahul Ahluwalia, ekonom Foundation for Economic Development.