MSCI Keluarkan 19 Saham Indonesia dari Indeks Global Standard dan Small Cap

MSCI Keluarkan 19 Saham Indonesia dari Indeks Global Standard dan Small Cap

Morgan Stanley Capital International (MSCI) merilis hasil rebalancing terbaru yang mendepak enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index dan 13 saham dari MSCI Global Small Cap Index pada Rabu (13/5/2026). Perubahan komposisi indeks ini dijadwalkan berlaku efektif segera setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026 mendatang.

Dilansir dari Detik Finance, penghapusan sejumlah emiten besar ini diperkirakan bakal mempengaruhi minat pemodal internasional. Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp 17.500 per dolar AS serta melambatnya pertumbuhan ritel domestik turut memperberat kondisi pasar saham saat ini.

Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta memberikan penegasan bahwa pengumuman tersebut membawa dampak kurang menguntungkan bagi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

"Adapun pengumuman ini menjadi sentimen negatif bagi IHSG sebab saham-saham yang dihapus ini kemungkinan besar akan kehilangan daya tarik di mata investor asing yang hanya berpatokan pada indeks MSCI," ujar Nafan, Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas.

Sentimen negatif tambahan muncul akibat kekhawatiran terhadap stabilitas moneter nasional. Hal ini dipicu oleh potensi keluarnya aliran dana asing atau outflow di tengah tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Sementara itu, Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana memberikan pandangan terkait tidak adanya emiten baru yang masuk ke dalam kategori Global Standard. Menurutnya, Indonesia masih berada dalam proses pemenuhan kriteria tertentu dari pihak MSCI.

"Perihal rebalancing MSCI ini, karena status Indonesia masih dibekukan dan sedang dalam tahapan reformasi pasar modal dan pemenuhan syarat MSCI maka wajar apabila tidak ada yang masuk," sebut Herditya, Head of Research MNC Sekuritas.

Herditya memprediksi bahwa periode penyesuaian ini akan menciptakan guncangan harga di bursa domestik. Para pengelola dana global biasanya langsung melakukan aksi jual atau penyesuaian portofolio segera setelah pengumuman rilis.

"Kami perkirakan, hal tersebut akan menyebabkan adanya volatilitas harga dan outflow aliran dana ke depannya karena rebalancing dari para fund manager," tambah Herditya, Head of Research MNC Sekuritas.

Kondisi pasar yang menantang ini membuat para pelaku pasar disarankan untuk lebih berhati-hati dalam menempatkan modal. Fokus utama disarankan tertuju pada emiten yang memiliki fundamental kuat dan tidak sensitif terhadap sentimen indeks global.

Berikut adalah daftar lengkap emiten yang keluar dari MSCI Global Standard Index:

Daftar Saham Keluar MSCI Global Standard Index
NoKode EmitenNama Perusahaan
1AMMNPT Amman Mineral Internasional Tbk
2BRENPT Barito Renewables Energy Tbk
3TPIAPT Chandra Asri Pacific Tbk
4DSSAPT Dian Swastatika Sentosa Tbk
5CUANPT Petrindo Jaya Kreasi Tbk
6AMRTPT Sumber Alfaria Trijaya Tbk

Selain indeks utama, MSCI juga melakukan perombakan besar pada MSCI Global Small Cap Index untuk pasar Indonesia. Dalam daftar terbaru, terdapat 13 saham yang didepak, sementara PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menjadi satu-satunya saham yang masuk setelah turun kasta dari indeks standar.

Daftar saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Index mencakup berbagai sektor mulai dari perbankan hingga perkebunan:

Daftar Saham Keluar MSCI Global Small Cap Index
NoKode EmitenNama Perusahaan
1ANTMPT Aneka Tambang Tbk
2AALIPT Astra Agro Lestari Tbk
3BANKPT Bank Aladin Syariah Tbk
4BSDEPT Bumi Serpong Damai Tbk
5DSNGPT Dharma Satya Nusantara Tbk
6SIDOPT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk
7MIDIPT Midi Utama Indonesia Tbk
8MIKAPT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk
9MSINPT MNC Digital Entertainment Tbk
10TKIMPT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk
11APICPT Pacific Strategic Financial Tbk
12SSMSPT Sawit Sumbermas Sarana Tbk
13TAPGPT Triputra Agro Persada Tbk

Investor kini mulai mencermati pergerakan emiten yang tidak terdampak langsung oleh kebijakan MSCI maupun fluktuasi nilai tukar rupiah untuk menjaga stabilitas portofolio mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi