Morgan Stanley Capital International (MSCI) merombak konstituen indeks global dengan mengeluarkan 19 saham Indonesia pada Selasa (13/5/2026). Dilansir dari Money, penyesuaian ini memicu penurunan IHSG sebesar 1,63 persen ke level 6.749 hingga tengah hari karena adanya tekanan jual dari manajer investasi pasif.
Hanya PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang berhasil masuk ke dalam MSCI Global Small Cap Indexes dalam periode rebalancing kali ini. Fenomena keluarnya belasan emiten tersebut memicu volatilitas jangka pendek di pasar modal domestik akibat aksi jual institusi global.
Praktisi Pasar Modal Hans Kwee menilai situasi ini justru menjadi kesempatan strategis bagi para investor untuk mengumpulkan aset berkualitas. Penurunan harga yang terjadi dinilai sebagai anomali teknikal yang disebabkan oleh kepanikan sesaat di pasar.
"Untuk melakukan akumulasi pada saham-saham blue chip dan sektor small cap yang harganya terkoreksi secara anomali akibat kepanikan dan tekanan jual paksa (forced selling) oleh fund manager pasif," kata Hans Kwee, Praktisi Pasar Modal dan Co Founder PasarDana.
Hans menekankan bahwa pergerakan pasar merupakan respons langsung atas pengumuman yang dirilis pada 12 Mei 2026. Ia mengimbau agar pelaku pasar tidak terbawa arus kepanikan yang berlebihan.
"Tidak terjebak dalam kepanikan jual (panic selling)," imbuh Hans Kwee, Praktisi Pasar Modal dan Co Founder PasarDana.
Penghapusan saham dari indeks ini menurutnya tidak berkaitan dengan kondisi kesehatan perusahaan secara fundamental. Faktor teknikal seperti metodologi pembobotan dan tingkat likuiditas menjadi alasan utama di balik keputusan MSCI tersebut.
"Fund manager pasif sebagian akan memanfaatkan periode terakhir di 29 Mei untuk melakukan rebalancing portofolionya mengikuti pengumuman MSCI," ungkap Hans Kwee, Praktisi Pasar Modal dan Co Founder PasarDana.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya reformasi pengawasan oleh OJK dan SRO untuk meningkatkan transparansi pasar. Upaya ini dianggap vital guna menarik kembali kepercayaan lembaga pemeringkat global di masa mendatang.
"Pengumuan MSCI ini bisa jadi bottom dari koreksi IHSG sebelum kembali bangkit mengikuti fundamental perusahaan," ungkap Hans Kwee, Praktisi Pasar Modal dan Co Founder PasarDana.
Di sisi lain, Associate Director of Research and Investment Maximilianus Nico Demus memproyeksikan IHSG masih akan berada dalam posisi tertekan. Berdasarkan analisisnya, indeks memiliki peluang besar untuk menyentuh level psikologis bawah.
"Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 6.850–7.000," ungkap Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment.
Saham yang keluar dari indeks MSCI menghadapi risiko arus modal keluar (outflow) yang signifikan karena manajer investasi global melakukan penjualan otomatis. Kondisi ini sering mengakibatkan dislokasi harga di mana nilai pasar jatuh di bawah nilai fundamental aslinya.
Emiten dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau free float kecil memiliki risiko likuiditas yang lebih besar saat terdepak. Hal ini membuat saham tersebut menjadi kurang menarik bagi investor institusi yang membutuhkan fleksibilitas dalam transaksi jual-beli.
| No | Nama Emiten | Kode Saham |
|---|---|---|
| 1 | PT Aneka Tambang Tbk | ANTM |
| 2 | PT Bank Jago Tbk | ARTO |
| 3 | PT Elang Mahkota Teknologi Tbk | EMTK |
| 4 | PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk | MIKA |
| 5 | PT Pertamina Geothermal Energy Tbk | PGEO |
| 6 | PT United Tractors Tbk | UNTR |
Secara keseluruhan, MSCI mencatat terdapat 246 tambahan saham baru dan 195 saham yang dikeluarkan dalam MSCI Global Small Cap Indexes secara global. Seluruh perubahan hasil evaluasi ini akan mulai efektif berlaku pada 1 Juni 2026 mendatang.