Lembaga pemeringkat Morgan Stanley Capital Index (MSCI) bersiap mengumumkan laporan terbaru mengenai penyesuaian atau rebalancing pada indeks pasar saham Indonesia. Pengumuman ini mencakup perubahan porsi saham, penambahan emiten baru, hingga migrasi antar segmen ukuran perusahaan.
Dilansir dari Suara, terdapat tiga poin utama yang menjadi fokus MSCI dalam laporan kali ini. Poin tersebut meliputi pembaruan Foreign Inclusion Factor (FIF) atau porsi saham bagi investor asing, penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta perpindahan klasifikasi ukuran saham.
Berdasarkan analisis dari Stockbit Sekuritas pada Selasa (11/5/2026), MSCI diprediksi akan tetap menghapus sejumlah saham yang memiliki tingkat kepemilikan mayoritas terlalu besar. Langkah ini disebut sejalan dengan kebijakan MSCI terhadap saham-saham serupa di pasar modal negara lain.
"Hal ini sejalan dengan perlakuan MSCI terhadap saham sejenis di pasar lain," tulis Stockbit dalam risetnya.
Dua emiten besar yang masuk dalam radar penghapusan adalah PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa. Keduanya berpotensi hengkang dari indeks MSCI karena diklasifikasikan ke dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan sangat tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC).
Eksklusi kedua emiten tersebut diprediksi akan berdampak pada pergerakan harga di pasar reguler. Stockbit menilai bahwa penyesuaian ini dapat memicu aksi jual dari dana kelolaan pasif yang selama ini menjadikan indeks MSCI sebagai acuan utama investasi mereka.
"Sehingga, kedua saham tersebut berpotensi mengalami tekanan jual dari passive fund saat MSCI mengeksekusi deletion," tulis Stockbit.
Penyesuaian Free Float dan Dampaknya
Selain penghapusan aset, investor juga diingatkan untuk mewaspadai langkah MSCI dalam menyesuaikan data kepemilikan saham publik atau free float. Penyesuaian ini menggunakan standar data kepemilikan di atas 1 persen guna menentukan klasifikasi pemegang saham yang akurat.
Perubahan pada perhitungan free float tersebut memiliki konsekuensi teknis bagi emiten yang ada saat ini. Jika hasil evaluasi menunjukkan penurunan likuiditas atau perubahan struktur kepemilikan yang signifikan, posisi saham tersebut di pasar modal bisa bergeser.
"Penyesuaian ini dapat membuat konstituen saham Indonesia mengalami deletion atau downgrade ke small cap index," tulis Stockbit.