Multifinance Selektif Terbitkan Surat Utang Akibat Kenaikan Suku Bunga

Multifinance Selektif Terbitkan Surat Utang Akibat Kenaikan Suku Bunga

Perusahaan multifinance memperketat penerbitan surat utang pada sisa tahun ini akibat kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 5,25 persen dan tren peningkatan yield obligasi pada Selasa (2/6/2026).

Langkah selektif ini diambil di tengah rendahnya pertumbuhan piutang pembiayaan yang hanya mencapai 0,61 persen secara tahunan per Maret 2026, seperti dilansir dari Keuangan.

Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin menjelaskan bahwa emiten pembiayaan hanya akan memasuki pasar saat memiliki kebutuhan pendanaan yang mendesak.

"Ketika ekspansi pembiayaan berjalan lambat, kebutuhan dana untuk menambah modal kerja juga lebih terbatas. Dalam situasi yield yang lebih tinggi, emiten memiliki kecenderung lebih besar untuk menunda penerbitan yang tidak mendesak," ucap Ahmad Nasrudin, Fixed Income Analyst Pefindo.

Kondisi pasar saat ini juga membuat perusahaan penilai risiko memperkirakan emiten akan lebih berhati-hati dalam menentukan tenor, waktu, serta volume penerbitan.

"Pada poin itu, beberapa emiten biasanya akan memilih pasar surat utang karena bunganya lebih kompetitif meski sama-sama naik, terutama emiten dengan peringkat tinggi seperti AAA," tutur Ahmad Nasrudin, Fixed Income Analyst Pefindo.

Situasi lesunya bisnis pembiayaan ini turut memengaruhi sikap para pemodal domestik dalam menyerap obligasi baru.

"Namun, kompensasi kupon yang diminta investor kemungkinan akan menjadi lebih tinggi seiring dengan iklim suku bunga yang meningkat," kata Ahmad Nasrudin, Fixed Income Analyst Pefindo.

Meskipun demikian, pembiayaan kembali untuk utang lama tetap harus berjalan demi menjaga likuiditas perusahaan karena nilai obligasi multifinance yang jatuh tempo tahun ini mencapai Rp 33,93 triliun.

"Selisih tersebut menunjukkan masih adanya kebutuhan penerbitan lanjutan, terutama menjelang puncak jatuh tempo kuartal III-2026," tutur Ahmad Nasrudin, Fixed Income Analyst Pefindo.

Ketergantungan pada surat berharga dan pinjaman perbankan ini terjadi karena perusahaan pembiayaan tidak mengumpulkan dana murah masyarakat seperti giro atau tabungan.

Pefindo mencatat total penerbitan surat utang sektor multifinance hingga Mei 2026 telah menyentuh Rp 12,93 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 19,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 10,84 triliun.

Artikel terkait

Rekomendasi