Siang itu, panas matahari menyelimuti hamparan sawah di Desa Karanglo, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Dari kejauhan, area persawahan tampak hijau dan tenang.
Air masih mengalir di sela petak-petak sawah, sementara angin sesekali menggoyangkan tanaman padi. Namun, di balik pemandangan yang terlihat subur itu, para petani menyimpan kegelisahan yang tidak sederhana.
Tanah yang dulu dianggap selalu mampu menghasilkan panen perlahan mulai berubah. Kesuburannya menurun, kebutuhan pupuk meningkat, sementara biaya produksi terus naik. Di saat yang sama, musim menjadi semakin sulit diprediksi.
"Kalau lahan tidak mulai kita perbaiki dari sekarang, suatu saat tanah pertanian bisa kehilangan kesuburannya" ujar Lilik Sri Haryanto, Local Champion Program Regenerative Agriculture.
Pria yang siang itu mengenakan baju lurik dan blangkon tersebut berbicara di bawah sebuah pendopo kayu di tengah persawahan. Di depannya, sejumlah petani dan tamu duduk melingkar sambil mendengarkan penjelasannya. Lilik bukan sekadar petani biasa. Ia merupakan sosok penggerak dalam program pertanian regeneratif binaan PT Tirta Investama Klaten (AQUA Klaten) di kawasan Sub-DAS Pusur.
Bagi Lilik, masalah pertanian hari ini bukan ancaman yang jauh. Ia dan petani lain sudah mulai merasakannya langsung di lapangan. Selama bertahun-tahun, pola pertanian konvensional membuat tanah terus dipaksa memproduksi hasil tanpa benar-benar dipulihkan. Sawah terus-menerus digenangi air, penggunaan pupuk dan pestisida kimia tinggi, sementara kandungan organik di dalam tanah semakin menurun. Akibatnya, struktur tanah berubah menjadi lebih keras dan kemampuan menyimpan air ikut berkurang.
"Kalau musim kemarau datang panjang, tanah lebih cepat retak" kata Lilik Sri Haryanto, Local Champion Program Regenerative Agriculture.
Perubahan iklim membuat situasi semakin rumit. Jadwal musim hujan dan kemarau tidak lagi mudah ditebak. Ketika debit air menurun, persoalan irigasi mulai memicu ketegangan antarpetani.
"Kadang petani bisa rebutan air untuk mengairi lahannya" ujar Lilik Sri Haryanto, Local Champion Program Regenerative Agriculture.
Dari kegelisahan itulah, pendekatan pertanian regeneratif mulai diperkenalkan di kawasan Sub-DAS Pusur. Bagi sebagian orang, istilah tersebut mungkin terdengar rumit. Namun bagi Lilik, konsepnya sederhana, yakni menghidupkan kembali tanah yang mulai lelah.
"Tanah itu seperti spons. Kalau bahan organiknya baik, dia bisa menyimpan air lebih lama" ujar Lilik Sri Haryanto, Local Champion Program Regenerative Agriculture.
Melalui sistem ini, petani mulai mengurangi ketergantungan terhadap pola lama dan memperbanyak penggunaan bahan organik agar struktur tanah kembali sehat. Perubahan paling terasa terjadi saat musim kemarau. Tanah yang sebelumnya cepat mengering kini mampu mempertahankan kelembapan lebih lama. Tidak hanya itu, pola pengairan juga mulai diubah. Jika sebelumnya sawah terus-menerus digenangi air, kini air dialirkan secara berselang.
"Ada waktunya diairi, ada waktunya dikeringkan" kata Lilik Sri Haryanto, Local Champion Program Regenerative Agriculture.
Cara ini membuat penggunaan air lebih efisien sekaligus membantu mengurangi konflik perebutan air antarpetani. Menurut Lilik, sawah sebenarnya bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan ruang bagi kehidupan yang saling berkaitan.
"Di sawah itu ada ekosistem" ujarnya Lilik Sri Haryanto, Local Champion Program Regenerative Agriculture.
Ketika kondisi tanah membaik, organisme alami perlahan kembali muncul. Keanekaragaman hayati yang terjaga membantu mengendalikan hama secara alami tanpa ketergantungan berlebihan pada bahan kimia.
"Kalau keanekaragaman hayati terjaga, musuh alami hama juga akan banyak" katanya Lilik Sri Haryanto, Local Champion Program Regenerative Agriculture.
Dari Sawah ke Ketahanan Lingkungan
Pendekatan pertanian regeneratif yang dijalankan di Klaten tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dalam jangka panjang. Program ini merupakan upaya kolaboratif untuk memperkuat ekosistem di wilayah Sub-DAS Pusur yang menjadi tumpuan hidup banyak warga.
Stakeholder Relation Manager AQUA Klaten, Rama Zakaria, memberikan gambaran mengenai jangkauan program ini yang telah menyentuh ratusan petani di berbagai desa. Langkah ini mencakup perbaikan infrastruktur fisik maupun edukasi metode tanam yang lebih bersahabat dengan alam.
Hingga kini, inisiatif tersebut telah melibatkan 309 petani di 10 desa di kawasan Sub-DAS Pusur. Luas lahan budidaya padi sehat yang dikelola telah mencapai lebih dari 45 hektare. Selain itu, langkah konkret juga dilakukan melalui normalisasi jaringan irigasi sepanjang lebih dari 6.000 meter yang memberi manfaat langsung bagi lebih dari 900 petani di wilayah tersebut.
Bagi para pemangku kepentingan, keberhasilan program ini diukur dari seberapa kuat prinsip-prinsip keberlanjutan diterapkan di lapangan. Hal ini mencakup transisi dari metode lama yang eksploitatif menuju metode yang memulihkan kualitas sumber daya alam yang ada.
Menurut Rama, pendekatan pertanian regeneratif dijalankan melalui beberapa prinsip utama, mulai dari pengolahan tanah minimal, pengurangan penggunaan pupuk dan pestisida kimia, pemanfaatan bahan organik, hingga manajemen air yang lebih efisien melalui sistem irigasi berselang.