Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menilai perlunya penguatan ketahanan kawasan bagi negara-negara di Asia di tengah peningkatan ketidakpastian global pada Rabu (20/5/2026).
Berbagai tekanan global saat ini menjadi sorotan yang meliputi terjadinya perang, hambatan pada rantai pasok, krisis energi, hingga dampak perubahan iklim global, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
"Ketegangan di Selat Hormuz mengingatkan kita betapa rapuhnya sistem global saat ini, dan betapa cepat guncangan energi dapat melintasi batas negara," ujar Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Peluang untuk menjadi pusat pertumbuhan baru di dunia dinilai masih terbuka bagi Asia apabila seluruh negara di kawasan tersebut mampu bersama-sama membangun ketahanan yang kokoh.
"Pertumbuhan yang tangguh membutuhkan arah, keberanian, dan konsistensi," kata Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Langkah pembangunan di Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto kini turut diarahkan untuk fokus pada aspek ketahanan pangan, energi, serta ketersediaan air bersih.
"Bagi Indonesia, sustainability bukan sekadar jargon global. Ini adalah tentang bagaimana masyarakat bisa hidup lebih aman, lebih sejahtera, dan lebih terlindungi," kata Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Sementara itu, dinamika geopolitik internasional saat ini diakui turut memberikan dampak langsung terhadap pergerakan pasar, aktivitas investasi, serta jalur perdagangan di tingkat global.
"Geopolitik kini memengaruhi pasar, rantai pasok, dan pilihan strategis negara-negara dunia," ujar Teo Chee Hean, Chairman Temasek Holdings.
Sektor penguatan ketahanan tersebut dinilai harus tetap berjalan tanpa mengorbankan nilai-nilai kerja sama yang erat serta sikap keterbukaan antarnegara di seluruh Asia.