Nilai Tukar Petani April 2026 Turun Akibat Tekanan Biaya Produksi

Nilai Tukar Petani April 2026 Turun Akibat Tekanan Biaya Produksi

Sektor pertanian menghadapi sinyal tekanan baru seiring penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) pada periode April 2026. Meskipun harga pangan di tingkat konsumen tetap tinggi, kemampuan petani dalam menutup ongkos produksi justru mengalami pelemahan signifikan.

Badan Pusat Statistik mencatat NTP April 2026 berada di level 125,24, atau mengalami penurunan sebesar 0,09 persen dibandingkan bulan sebelumnya, seperti dikutip dari Ekonomi. Penurunan ini dipicu oleh kenaikan indeks harga yang dibayar petani yang mencapai 0,24 persen.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan indeks harga yang diterima petani yang hanya naik tipis sebesar 0,16 persen. Kondisi ini mengindikasikan bahwa peningkatan pendapatan dari hasil panen tidak mampu mengejar lonjakan biaya konsumsi dan operasional pertanian.

Sektor hortikultura mencatatkan tekanan paling dalam dengan penurunan mencapai 5,31 persen akibat anjloknya harga komoditas seperti cabai rawit, bawang merah, dan kol. Sementara itu, subsektor peternakan turun 0,97 persen dan sektor perikanan melemah 0,98 persen.

Tabel Perbandingan NTP Januari–April 2025 vs 2026
SubsektorJan-Apr 2025Jan-Apr 2026Perubahan
108,51112,49+3,66%125,59
132,31+5,35%163,46159,01
-2,72%100,96103,51+2,52%
103,36107,67+4,17%103,37
108,34+4,80%103,34106,61
+3,17%122,97124,91+1,58%

Pengamat pertanian Khudori memberikan catatan bahwa penurunan NTP tidak secara otomatis mencerminkan jatuhnya tingkat kesejahteraan petani secara utuh. Menurutnya, indikator ini hanya mengukur perbandingan antara harga yang diterima dan harga yang dibayar oleh para petani.

"NTP itu hanya membandingkan harga-harga. Sama sekali bukan cara untuk mengukur kesejahteraan, bahkan proksi pun tidak," ujar Khudori.

Ia menambahkan bahwa banyak rumah tangga petani kecil memiliki sumber pemasukan lain di luar sektor pertanian. Meski demikian, penurunan NTP tetap menjadi indikator nyata atas menipisnya margin usaha tani akibat kenaikan harga BBM, pupuk, dan biaya sewa alat.

Kepala Badan Perbenihan Nasional SPI, Kusnan, menyebut situasi ini sebagai fenomena tekanan ganda atau double squeeze. Kondisi ini terjadi ketika harga input produksi melambung di saat harga jual hasil panen justru merosot di tingkat lapangan.

"Banyak petani sebenarnya hanya bertahan, bahkan merugi jika menghitung tenaga kerja keluarga sendiri," kata Kusnan.

Persoalan ini juga diperparah oleh minimnya infrastruktur pascapanen seperti gudang dan fasilitas pendingin. Keterbatasan ini memaksa petani menjual hasil buminya dengan cepat meskipun harga sedang jatuh guna menghindari risiko kerusakan produk.

Dampak jangka panjang dari tren ini dapat mengancam stabilitas produksi pangan nasional jika petani memutuskan beralih ke komoditas lain. Digitalisasi rantai pasok dan subsidi sarana produksi yang tepat sasaran menjadi langkah krusial yang terus didorong oleh pelaku usaha tani.

Artikel terkait

Rekomendasi