PT Nindya Karya (Persero) menerapkan pendekatan konstruksi khusus dalam pembangunan Sekolah Rakyat Kabupaten Malang. Dilansir dari Detik Finance, proyek fasilitas pendidikan ini memiliki kompleksitas geografis yang khas karena didirikan di atas lahan yang memiliki topografi berkontur.
Kondisi wilayah yang tidak rata tersebut tidak dijadikan sebagai hambatan dalam proses pembangunan. Pihak perusahaan justru menjadikannya sebagai karakter utama yang memandu seluruh perencanaan dan proses konstruksi di lapangan.
Langkah ini diambil untuk menghadirkan model pembangunan infrastruktur yang lebih kontekstual serta efisien. Metode tersebut juga menjadi perwujudan komitmen dalam memberikan solusi teknis yang tepat terhadap karakteristik tanah yang beragam.
Project Director PT Nindya Karya (Persero), Bayu Apriyadi menyampaikan bahwa Sekolah ini diharapkan menjadi ruang gerak yang mendukung pemerataan pendidikan sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia di masa depan.
"Harapan kami, pembangunan Sekolah Rakyat Kabupaten Malang tidak hanya menjadi simbol pemerataan akses pendidikan, tetapi juga dapat menjadi contoh bahwa karakter geografis yang berbeda bukanlah keterbatasan dalam pembangunan." ujar Bayu Apriyadi dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).
Proses pengerjaan di lapangan memanfaatkan metode trap atau terasering sebagai solusi teknis utamanya. Melalui teknik ini, penempatan plot bangunan disesuaikan secara presisi dengan kondisi elevasi alami yang sudah ada pada lahan.
Penerapan sistem berundak tersebut membuat setiap massa bangunan dapat menyatu secara harmonis dengan lanskap sekitar. Pola ini dinilai mampu menjaga keaslian lingkungan sekaligus mengoptimalkan efektivitas pengerjaan melalui perhitungan tinggi lahan yang terukur.
Zonasi Berdasarkan Tingkat Ketinggian Lahan
Penataan kawasan pendidikan ini juga menerapkan pengelompokan fungsi bangunan yang berbasis pada zonasi elevasi. Perbedaan ketinggian tapak menjadi acuan utama dalam menyusun hubungan antarbangunan demi kelancaran sirkulasi serta aksesibilitas pengguna.
Konsep pembagian wilayah tersebut mempermudah pengaturan operasional lingkungan sekolah agar lebih tertata dan nyaman. Pemanfaatan bentang alam yang adaptif ini sekaligus memberikan pengalaman spasial yang lebih optimal pada infrastruktur sosial tersebut.