Pasar minyak global diprediksi baru akan mencapai titik keseimbangan normal pada 2027 apabila penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz terus berlangsung melewati pertengahan Juni 2026. Peringatan mengenai stabilitas energi ini disampaikan oleh CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, dalam paparan kinerja kuartal I/2026 perusahaan pada Senin (11/5/2026).
Kekacauan rantai pasok tersebut dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Ekonomi, upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur vital Teluk Persia tersebut masih mengalami kebuntuan hingga saat ini.
"Jika Selat Hormuz dibuka hari ini, pasar tetap membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk kembali seimbang. Jika pembukaannya tertunda beberapa pekan lagi, maka normalisasi pasar akan berlangsung hingga 2027," kata Nasser dikutip dari CNBC International, Selasa (12/5/2026).
Data operasional menunjukkan bahwa sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia biasanya melintasi selat tersebut sebelum blokade efektif dilakukan Iran sejak awal Maret 2026. Amin Nasser menyoroti bahwa masalah utama saat ini terletak pada distribusi armada kapal tanker yang mengalami dislokasi besar-besaran.
"Bahkan dalam skenario paling optimistis, rantai pasok energi dan komoditas tetap membutuhkan beberapa bulan untuk kembali ke lalu lintas sebelum konflik karena kapal harus mengubah rute atau menghindari kondisi menganggur," katanya.
Kondisi logistik saat ini mencatat lebih dari 600 kapal tanker tertahan di kawasan Teluk, sementara 240 kapal lainnya menunggu di luar Selat Hormuz. Kelangkaan pasokan semakin terasa karena pasar kehilangan sekitar 100 juta barel minyak setiap pekan selama jalur tersebut lumpuh.
"Kondisi ini bisa mencapai level kritis menjelang musim perjalanan dan peningkatan konsumsi bahan bakar pada musim panas," ujarnya.
Secara kumulatif, dunia telah kehilangan lebih dari 1 miliar barel minyak akibat krisis ini, meski kerugian bersih dapat ditekan menjadi 880 juta barel melalui jalur pipa alternatif Aramco. Kapasitas jaringan pipa Petroline telah ditingkatkan menjadi 7 juta barel per hari untuk menyalurkan minyak ke Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz.