Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengantisipasi munculnya dinamika jangka pendek di pasar saham domestik menyusul rencana pengumuman lanjutan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Selasa, 12 Mei 2026. Regulator memproyeksi adanya potensi koreksi singkat sebelum pasar menguat secara berkelanjutan dalam jangka panjang.
Dilansir dari Market, pengumuman tersebut merupakan tindak lanjut dari informasi yang telah dirilis pada April 2026. Fokus utama para investor tertuju pada keputusan MSCI mengenai penghapusan saham Indonesia yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) atau kepemilikan terkonsentrasi.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa segala kemungkinan dapat terjadi saat hasil tinjauan tersebut diumumkan secara resmi. Meskipun pasar sempat tertekan pada awal tahun akibat pembekuan rebalancing, ia menilai kondisi saat ini jauh lebih kuat berkat transparansi yang berjalan.
"Jadi kita harus mengantisipasi. Tadi saya sampaikan, mungkin bisa menjadi short-term pain, tapi Insyaallah menjadi long-term gain," ujar Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK.
Perempuan yang akrab disapa Kiki tersebut juga menegaskan bahwa dampak dari keputusan indeks global ini merupakan konsekuensi logis dari perbaikan tata kelola pasar modal Indonesia. Ia meyakini fondasi ekonomi makro nasional yang kokoh tetap mampu menjaga kepercayaan diri para pelaku pasar di tengah masa transisi.
"Delapan aksi reformasi itu terus kita lakukan. Misalnya penegakan hukum, penguatan pengawasan. Dari BEI bagaimana mendorong banyak perusahaan masuk bursa, yang tentu saja akan kita lihat dulu kualitasnya, tidak hanya kuantitas saja," ujar Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK.
Regulator kini terus mendorong peran investor institusi domestik untuk melakukan pendalaman pasar agar tidak terlalu sensitif terhadap gejolak global. Saat ini, jumlah investor di Indonesia tercatat telah menembus angka 26 juta orang.
Kebijakan interim MSCI pada Mei 2026 ini mencakup pembatasan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) serta penahanan kenaikan kelas kapitalisasi. Selain itu, MSCI juga berpotensi menggunakan data keterbukaan pemegang saham di atas satu persen untuk menyesuaikan free float secara selektif.
Langkah-langkah tersebut diambil dengan tujuan menekan perputaran indeks dan meminimalkan risiko investability selama masa evaluasi kebijakan baru dari OJK, BEI, dan KSEI. MSCI dijadwalkan akan memaparkan hasil kajian lengkapnya pada Market Accessibility Review bulan Juni 2026.