Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong bank-bank dalam kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 3 untuk naik kelas guna memperkuat fundamental industri perbankan nasional, seperti dilansir dari Keuangan pada Sabtu (16/5/2026).
Langkah ini diarahkan sebagai proses penguatan bertahap yang mengedepankan dialog dengan industri di tengah ketidakpastian ekonomi domestik dan global. Hingga Februari 2026, OJK mencatat terdapat 16 bank yang berada di kelompok KBMI 3.
OJK memproyeksikan ada dua hingga tiga bank dari kelompok ini yang berpotensi naik kelas dalam pipeline tahun ini. Kenaikan kelas tersebut diharapkan mampu memperluas peluang ekspansi bisnis, penyaluran kredit, dan meningkatkan efisiensi layanan teknologi informasi.
“Kelompok bank KBMI 3 memiliki kemampuan yang memadai untuk dapat meningkatkan nilai tambah bisnis menjadi bank KBMI 4,” sebut Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK.
Dian menambahkan bahwa bertambahnya bank besar akan meningkatkan daya saing industri perbankan nasional di kancah global.
Kondisi ini mendapat tanggapan dari pengamat ekonomi yang menilai aspek administratif pemenuhan modal inti tersebut sangat mungkin dicapai melalui kombinasi laba ditahan, penguatan modal, atau aksi korporasi.
“Dalam konteks ekonomi yang masih penuh ketidakpastian, kualitas pertumbuhan modal menjadi faktor yang jauh lebih penting dibanding pencapaian status regulasi semata,” ungkap Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia pada Selasa (19/5/2026).
Yusuf mengingatkan bahwa tekanan profitabilitas saat ini membuat jalur organik membutuhkan waktu lebih lama, sehingga ekspansi yang terlalu agresif perlu dihindari.
“Rights issue dalam kondisi pasar yang belum ideal bisa menekan valuasi dan kurang optimal bagi pemegang saham. Begitu juga merger atau akuisisi yang dipaksakan justru berpotensi membawa masalah kualitas aset baru ke dalam neraca bank,” jelas Yusuf.
Menurut Yusuf, strategi paling relevan saat ini adalah fokus pada kualitas bisnis inti seperti kredit, dana murah, efisiensi operasional, dan optimalisasi ekosistem grup.
Merespons situasi tersebut, PT Bank CIMB Niaga Tbk sebagai bank dengan modal inti terbesar di kategori KBMI 3 senilai Rp 56,63 triliun per Maret 2026 memilih fokus pada pertumbuhan berkelanjutan.
“Kami lebih memfokuskan diri pada pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga.
Pihak manajemen CIMB Niaga menegaskan tidak pernah menargetkan kenaikan kelas secara khusus namun tetap melihat potensi yang ada.
“Kami selalu siap apabila ada kesempatan yang cocok dengan rencana bisnis kami,” imbuh Lani.
Di sisi lain, PT Bank SMBC Indonesia Tbk yang memiliki modal inti Rp 44,46 triliun per Maret 2026 juga tidak memprioritaskan kenaikan kelas ke KBMI 4 tahun ini demi menjaga manajemen risiko.
“Untuk naik kelas KBMI, secara organik kami akan capai,” kata Henoch Munandar, Direktur Utama SMBC Indonesia.