OJK Dorong Penguatan Pasar Modal Demi Target Ekonomi 2027

OJK Dorong Penguatan Pasar Modal Demi Target Ekonomi 2027

Sektor pasar modal dan keuangan digital harus diperkuat agar mampu menjadi tumpuan dalam mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 7,5 persen pada tahun 2027 mendatang. Hal tersebut menjadi penekanan penting di tengah dinamika perekonomian global yang tidak menentu saat ini.

Seperti diberitakan oleh Suara, Ketua Dewan OJK Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan bahwa pembiayaan untuk menyokong pertumbuhan ekonomi tersebut membutuhkan dana yang sangat besar. Berdasarkan data Bappenas, Indonesia memerlukan modal sekitar Rp8.600 triliun.

"Data dari Bappenas yang menyampaikan bahwa Indonesia butuh angka yang cukup besar untuk pembiayaan, untuk mendukung sektor pertumbuhan ekonomi kita.Mungkin sekitar Rp8.600 triliun," katanya di Balai Kartini, Senin (25/5/2026).

Kebutuhan dana yang masif ini tidak dapat terpenuhi jika hanya mengandalkan sektor perbankan konvensional. Oleh karena itu, diversifikasi sumber pendanaan melalui pasar modal dan jasa keuangan digital mutlak diperlukan agar perluasan akses pembiayaan berjalan optimal.

"Pembiayaan ekonomi Indonesia membutuhkan dukungan yang lebih luas. Tidak hanya dari perbankan, tetapi juga sumber pembiayaan baru agar pertumbuhan ekonomi nasional dapat berjalan optimal," ujar Friderica.

Meskipun demikian, intermediasi perbankan domestik saat ini masih menunjukkan kinerja positif. Penyaluran kredit perbankan pada Maret 2026 tumbuh 9,49 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp8.659 triliun, dibarengi kenaikan dana pihak ketiga sebesar 13,5 persen menjadi Rp10.231 triliun.

Sektor jasa keuangan lain seperti lini asuransi, dana pensiun, dan perusahaan pembiayaan juga mencatatkan pertumbuhan dengan profil risiko yang tetap terkendali. Langkah reformasi integritas dan koreksi indeks di pasar modal saat ini diharapkan menjadi fondasi investasi jangka panjang yang kuat.

"Semua upaya yang dilakukan saat ini bertujuan untuk memperkuat pembiayaan ekonomi nasional, baik dari sektor perbankan maupun sektor lain, terutama pasar modal," katanya.

Di sisi lain, tantangan berat datang dari pasar obligasi dan saham domestik yang sedang menghadapi tekanan arus modal keluar (capital outflow) yang signifikan. Berdasarkan data Permata Bank, Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang mengalami fenomena kaburnya modal asing pada pasar surat utang tersebut.

"Hanya Indonesia yang mengalami outflow. Sedih banget. Hanya Indonesia yang mengalami outflow," tegas ekonom Permata Bank Josua Pardede dalam Pelatihan Media Bank Indonesia di Makassar, Jumat (22/5/2025).

Sepanjang kuartal I 2026, catatan net outflow penanam modal asing di pasar obligasi Indonesia mencapai sekitar US$1,48 miliar. Sementara itu, aliran modal keluar di pasar saham domestik menyentuh angka US$1,95 miliar akibat kekhawatiran pelaku pasar global terhadap risiko fiskal serta kualitas kebijakan ekonomi domestik.

Artikel terkait

Rekomendasi