Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meluncurkan prototype produk Energy Savings Insurance (ESI) atau asuransi penghematan energi dalam kegiatan Energy Efficiency Investment & Business Forum 2026 di Jakarta pada Rabu (20/5/2026) untuk mendorong inovasi produk perasuransian yang mendukung agenda transisi energi dan ekosistem keuangan berkelanjutan di Indonesia.
Langkah ini diambil guna memperkuat mitigasi risiko pada proyek efisiensi energi serta menaikkan kelayakan pembiayaan proyek transisi energi nasional. Pengembangan produk ESI tersebut dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan OJK, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), ASEAN Centre for Energy (ACE), BASE Foundation, UK Partnering for Accelerated Climate Transitions (UK PACT), Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), hingga pelaku industri jasa keuangan dan perasuransian.
Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono memberikan penjelasan mengenai peluncuran inovasi produk perasuransian ini dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK pada Jumat (5/6/2026).
"Melalui peluncuran prototype produk ESI yang dilakukan dalam kegiatan Energy Efficiency Investment & Business Forum 2026 di Jakarta pada 20 Mei 2026," ujar Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK.
Inovasi dalam industri asuransi ini ditargetkan mampu memperluas andil sektor finansial terhadap pencapaian kelestarian lingkungan jangka panjang.
"Ditambah, mendorong peningkatan peran industri perasuransian dalam mendukung implementasi ekonomi hijau dan pencapaian target Net Zero Emission (NZE) di Indonesia," ungkap Ogi Prastomiyono, Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK.
Di samping perkembangan produk baru, kondisi keuangan sektor asuransi komersial memperlihatkan dinamika yang bervariasi. Berdasarkan laporan dari media Keuangan, akumulasi aset industri asuransi komersial menembus angka Rp984,20 triliun hingga April 2026, atau mengalami pertumbuhan sebesar 4,65 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Kendati demikian, perolehan premi industri ini masih mengalami tekanan dengan penurunan tipis 0,36 persen YoY menjadi Rp116,01 triliun pada periode yang sama. Kontraksi ini dipengaruhi oleh penurunan premi asuransi umum dan reasuransi sebesar 4,32 persen YoY menjadi Rp53,43 triliun, meskipun premi asuransi jiwa tetap tumbuh positif 3,28 persen YoY ke posisi Rp62,58 triliun.