Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewaspadai potensi penurunan kinerja industri pembiayaan kendaraan bermotor akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dampak ini diprediksi muncul melalui penyesuaian harga jual unit yang memiliki komponen impor tinggi pada Kamis (7/5/2026).
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, dan Lembaga Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman menyatakan bahwa gejolak kurs ini akan memengaruhi sisi permintaan masyarakat di perusahaan multifinance, sebagaimana dilansir dari Money.
"Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi memengaruhi permintaan pembiayaan kendaraan pada perusahaan pembiayaan, terutama melalui penyesuaian harga kendaraan yang memiliki komponen impor," ujar Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK.
Kenaikan harga tersebut dinilai dapat menahan minat konsumen untuk membeli kendaraan baru. Sebagai langkah mitigasi, OJK meminta pelaku industri untuk memperketat manajemen risiko agar stabilitas sektor pembiayaan tetap terjaga di tengah tekanan mata uang.
"Dalam menyikapi hal tersebut, perusahaan pembiayaan perlu memperkuat manajemen risiko, menjaga prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan, serta menyesuaikan strategi bisnis secara adaptif agar tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas pembiayaan," kata Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK.
Selain faktor harga, penurunan kemampuan bayar debitur juga menjadi perhatian otoritas. OJK memprediksi perusahaan multifinance akan bersikap lebih selektif dalam menyetujui aplikasi kredit guna menghindari lonjakan rasio pembiayaan bermasalah (NPF).
"Pelemahan rupiah juga dapat berdampak pada profil risiko perusahaan pembiayaan, terutama apabila memengaruhi kemampuan bayar debitur, sehingga perlu diantisipasi antara lain melalui penguatan monitoring dan mitigasi risiko," terang Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK.
Pengetatan proses seleksi ini diharapkan mampu menjaga kualitas portofolio aset industri di tengah dinamika ekonomi global yang belum stabil.
"Sejalan dengan hal tersebut, perusahaan pembiayaan cenderung akan lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan guna menjaga kualitas portofolio," kata Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK.
Sektor modal ventura juga turut merasakan dampak serupa, di mana risiko investasi meningkat bagi perusahaan yang memiliki ketergantungan pada pendanaan valuta asing.
"Pada industri modal ventura, pelemahan nilai tukar rupiah dapat meningkatkan risiko investasi, antara lain terkait eksposur terhadap pendanaan dalam valuta asing," ujar Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK.
Meskipun demikian, Agusman optimistis bahwa kinerja laba masih bisa dikelola melalui diversifikasi portofolio dan penguatan tata kelola perusahaan.
"Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kinerja laba, namun dengan pengelolaan risiko yang baik, diversifikasi portofolio, serta penguatan tata kelola, industri modal ventura diharapkan tetap mampu menjaga kinerja secara berkelanjutan," katanya Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK.
Berdasarkan data statistik OJK, industri modal ventura masih mencatatkan laba bersih sebesar Rp 59,31 miliar hingga posisi Maret 2026.
Di sisi lain, sektor otomotif menunjukkan tren penurunan di mana penyaluran pembiayaan mobil baru terkontraksi 3,17 persen (yoy) menjadi Rp 146,56 triliun, sementara mobil bekas turun 7,67 persen (yoy) ke angka Rp 86,73 triliun.
"Pada Maret 2026, penyaluran kendaraan bermotor roda empat baru terkontraksi 3,17 persen (yoy) menjadi sebesar Rp 146,56 triliun, sementara penyaluran kendaraan bermotor roda empat bekas terkontraksi 7,67 persen (yoy) menjadi Rp 86,73 triliun," ujar Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK.
Segmen mobil baru tetap menjadi penopang utama industri dengan porsi mencapai 26,95 persen dari total outstanding multifinance nasional.
"Pembiayaan kendaraan roda empat baru masih mendominasi dengan porsi 26,95 persen dari total outstanding industri multifinance," tutur Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK.
OJK memproyeksikan sektor otomotif tetap akan menjadi kontributor pertumbuhan utama hingga semester I 2026 karena kebutuhan transportasi masyarakat yang tetap tinggi.
"Hingga semester 1 tahun 2026, pembiayaan otomotif diperkirakan tetap menjadi salah satu kontributor utama pertumbuhan industri multifinance, seiring dengan kebutuhan pembiayaan kendaraan masyarakat serta peran strategis sektor ini dalam mendukung aktivitas ekonomi," ujar Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK.