Pangsa Pasar Bank Asing di Indonesia Menguat Capai 23 Persen

Pangsa Pasar Bank Asing di Indonesia Menguat Capai 23 Persen

Pangsa pasar bank asing dan kantor cabang bank asing di Indonesia menunjukkan penguatan signifikan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per Maret 2026, porsinya telah menyentuh angka 23,75 persen dari total aset industri perbankan nasional, serta menguasai 21,02 persen dari total penyaluran kredit, seperti dilansir dari Keuangan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan bahwa ekspansi dan aksi korporasi institusi global ini memberikan dampak positif bagi pasar domestik. Peran strategis mereka mencakup penyaluran kredit valuta asing untuk ekspor-impor, fasilitasi foreign direct investment, hingga pembiayaan proyek berskala besar.

“Keberadaan institusi perbankan dengan afiliasi regional maupun global diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan industri jasa keuangan nasional,” ujar Dian dalam jawaban tertulis, Senin (18/5).

“Bank asing juga berperan dalam menganalisis dan memitigasi risiko investasi serta memperkuat alternatif struktur pendanaan sehingga memberikan keyakinan bagi investor,” jelasnya.

Kendati peran bank asing menguat, peta persaingan industri perbankan tanah air secara umum masih dikuasai oleh deretan bank domestik, terutama kelompok Himpunan Bank Milik Negara. Namun, dinamika pasar semakin tajam seiring dengan integrasi operasional yang dijajaki oleh sejumlah pemain besar.

Salah satu langkah strategis yang sedang berjalan adalah rencana integrasi operasional antara PT Bank Danamon Indonesia Tbk dan MUFG Bank Ltd kantor cabang Indonesia. Kerja sama ini ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman untuk menggabungkan kekuatan bisnis keduanya.

Apabila proses merger ini berjalan lancar, entitas baru yang terbentuk diproyeksikan akan mengelola total aset gabungan mencapai Rp 489,15 triliun. Proses ini ditargetkan efektif pada tahun 2027 setelah mengantongi izin dari regulator serta pemegang saham.

Dari sisi modal, per Maret 2026, Bank Danamon tercatat memiliki total aset konsolidasian senilai Rp 279,93 triliun. Sementara itu, aset yang dimiliki oleh MUFG Indonesia berada di angka Rp 209,22 triliun.

Kinerja keuangan Bank Danamon sendiri memperlihatkan pertumbuhan yang solid pada kuartal pertama tahun ini. Laba bersih perseroan melonjak 35 persen secara tahunan menjadi Rp 1,1 triliun, ditopang oleh pertumbuhan kredit dan trade finance sebesar 9 persen yoy menjadi Rp 216,2 triliun.

“Danamon berkomitmen tetap menjadi penyedia solusi finansial yang mendapatkan kepercayaan nasabah serta terus berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia,” ujarnya.

Ekspansi Ritel dan Manajemen Kekayaan OCBC Indonesia

Langkah agresif juga diambil oleh PT Bank OCBC NISP Tbk yang memperluas ekosistem bisnisnya di ceruk pasar sekunder. Mereka melakukan akuisisi terhadap unit bisnis retail banking serta wealth management milik HSBC Indonesia.

Aksi akuisisi ini mencakup pengalihan portofolio kartu kredit, simpanan nasabah, kredit ritel, hingga asset under management yang bernilai sekitar Rp 89,8 triliun. Transaksi ini diproyeksikan tuntas sepenuhnya pada kuartal kedua tahun 2027.

Pasca-transaksi, saldo kartu kredit OCBC Indonesia berpotensi melonjak hingga lebih dari 150 persen, diikuti kenaikan AUM sekitar 25 persen. Pada kuartal I-2026, OCBC mengantongi laba bersih Rp 1,36 triliun dengan total penyaluran kredit Rp 171 triliun dari total aset Rp 312,9 triliun.

“Kami melihat momentum pertumbuhan yang tetap terjaga di awal tahun 2026, baik dari sisi intermediasi maupun penghimpunan dana,” ujar Parwati.

Strategi Efisiensi dan Penguatan Pendapatan Non-Bunga

Di sisi lain, PT Bank CIMB Niaga Tbk memilih fokus memacu pendapatan berbasis komisi untuk menjaga profitabilitas di tengah tren perlambatan permintaan kredit. Langkah ini diambil guna menekan dampak penyusutan margin bunga pada segmen ritel dan UMKM.

Laba bersih CIMB Niaga pada kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp 1,76 triliun, atau mengalami sedikit penurunan sebesar 2,22 persen secara tahunan. Walau demikian, penyaluran kredit mereka tetap tumbuh 2,2 persen yoy menjadi Rp 235,1 triliun dengan total aset Rp 368,2 triliun.

“Sampai kuartal I tahun ini kinerja kami baik dan sesuai target financial,” ujar Lani.

“Kami fokus di pendapatan non bunga atau fee income untuk menggantikan kekurangan dari pendapatan bunga sehingga fee income ratio sudah mencapai di atas 33%,” jelasnya.

Guna memenangkan persaingan dengan bank lokal, CIMB Niaga mengandalkan penguatan efisiensi operasional dengan menjaga rasio biaya terhadap pendapatan di level 45 persen sampai 47 persen. Kualitas lini kredit juga dijaga ketat dengan rasio NPL di bawah 1,9 persen.

Pertumbuhan yang tidak kalah tinggi juga dicatatkan oleh PT Bank Oke Indonesia Tbk. Laba bersih OK Bank melonjak tajam hingga 112,54 persen yoy menjadi Rp 64,67 miliar, dibarengi pertumbuhan total aset sebesar 12,15 persen menjadi Rp 13,73 triliun.

“Kami fokus pada segmen korporasi dan komersial, sekaligus tetap mengembangkan portofolio ritel dengan prinsip risiko yang terkendali,” ujar Efdinal.

“Ruang ekspansi tetap besar meskipun kompetisi ketat. Kami memperluas pasar melalui pemilihan segmen yang tepat, penguatan kualitas layanan, dan operasional yang efisien,” katanya.

Artikel terkait

Rekomendasi