Pasar Keuangan Indonesia Bergolak Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok

Pasar Keuangan Indonesia Bergolak Rupiah Melemah dan IHSG Anjlok

Pasar keuangan domestik mengalami guncangan hebat setelah Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG anjlok lebih dari 4 persen dan nilai tukar rupiah terpuruk mendekati level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada Rabu (3/6/2026).

Kondisi ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran oleh investor yang khawatir terhadap derasnya arus modal asing keluar dari Indonesia. Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir dari Suara, nilai tukar rupiah merosot ke level Rp17.910 per dolar AS pada awal Juni.

Pelemahan nilai tukar mata uang ini langsung memicu lonjakan harga jual dolar AS di sejumlah perbankan nasional. Beberapa bank swasta bahkan sudah menetapkan harga jual mata uang asing tersebut di atas Rp18.000 per dolar AS.

Di sektor perbankan pelat merah, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjual dolar AS pada kisaran Rp17.900 hingga Rp17.940. Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mematok kurs jual Rp17.930-Rp17.940, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menjualnya hingga Rp17.990.

Sebaliknya, perbankan swasta mencatat angka yang lebih tinggi. PT HSBC Indonesia menetapkan kurs jual dolar AS pada level Rp18.110 untuk e-rate dan Rp18.185 untuk bank notes, sedangkan PT Bank SMBC Indonesia Tbk menjualnya seharga Rp18.100.

Kenaikan harga dolar ini terjadi selaras dengan ambruknya IHSG sebesar 4,11 persen ke level 5.936,05 hingga pukul 11.00 WIB. Indeks saham domestik sempat dibuka pada posisi 6.207,10 dan menyentuh titik tertinggi harian di level 6.213,80 sebelum akhirnya terperosok.

Kekhawatiran pasar ikut diperburuk oleh isu eksternal terkait penggeledahan Kantor Pusat Badan Gizi Nasional oleh Kejaksaan Agung. Langkah hukum tersebut dilakukan setelah Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, dicopot dari posisinya.

Kepanikan pasar tercermin dari aktivitas transaksi bursa yang mencatat volume perdagangan mencapai 18,70 miliar saham. Nilai transaksi menyentuh Rp11,89 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1,42 juta kali.

Penurunan tajam ini mengoreksi nilai kapitalisasi pasar seluruh emiten di Bursa Efek Indonesia yang kini berada di kisaran Rp10.418 triliun. Tercatat sebanyak 704 saham melemah, 194 saham bergerak stagnan, dan hanya 61 saham yang berhasil menguat.

Artikel terkait

Rekomendasi